RADAR SURABAYA BISNIS – Di tengah meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, tren konsumsi gula mulai bergeser.
Bukan lagi sekadar mencari rasa manis, generasi Milenial dan Gen Z kini beralih ke alternatif yang lebih aman bagi tubuh.
Fenomena ini menempatkan Stevia, tanaman pemanis alami nol kalori, sebagai bintang baru dalam peta bisnis food and beverage (F&B) dan gaya hidup di Indonesia.
Bagi anak muda masa kini, label "Sugar-Free" atau "Low Calorie" memiliki nilai jual tinggi, bukan hanya karena diet, tapi juga karena kini anak muda semakin sadar akan kesehatan.
Data menunjukkan adanya peningkatan kekhawatiran terhadap risiko diabetes di usia muda, yang memicu perubahan pola konsumsi secara masif.
Stevia, yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana, menawarkan tingkat kemanisan hingga 200-300 kali lipat dari gula pasir namun dengan indeks glikemik nol. Hal inilah yang ditangkap oleh para pengusaha muda sebagai peluang emas.
Potensi bisnis Stevia tidak hanya terbatas pada penjualan bubuk pemanis di supermarket. Para inovator muda mulai mengintegrasikan Stevia ke berbagai lini usaha.
Kedai kopi dan artisan tea mulai mengganti sirup fruktosa dengan ekstrak Stevia untuk menarik segmen pasar yang sedang diet atau health-conscious.
Produk camilan sehat seperti cookies dan cokelat ramah keto yang menggunakan Stevia kini juga sudah mulai merambah pasar digital dengan pertumbuhan pesat.
Di sisi hulu, pertanian Stevia mulai dilirik karena masa panen yang relatif singkat dan permintaan pasar ekspor yang terus meningkat.
Mengutip dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menurut Peneliti Ahli BRIN, Yuli Widiyastuti, pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat atau fads.
“Stevia memiliki banyak manfaat medis yang membuatnya berpotensi tinggi sebagai komoditas obat herbal. Di pasar global, permintaan terhadap stevia terus meningkat, menjadikannya bisnis yang sangat menjanjikan,” ungkapnya.
Selain itu, Stevia dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan industri gula tebu konvensional karena membutuhkan lahan dan air yang lebih sedikit dalam proses produksinya, sebuah poin tambahan bagi brand yang mengusung konsep sustainability.
Meski menggiurkan, bisnis ini bukan tanpa tantangan. Aftertaste pahit (licorice-like) yang kadang muncul pada Stevia berkualitas rendah menjadi pekerjaan rumah bagi para produsen untuk melakukan formulasi yang tepat agar rasa tetap akrab di lidah konsumen Indonesia.
Editor : Hany Akasah