Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Tak Hanya Sekadar Liburan, Ini Alasan Pariwisata Bisa Jadi Tambang Emas Baru bagi Indonesia

Hany Akasah • Kamis, 29 Januari 2026 | 13:23 WIB
Pesona Pantai Kelingking, Destinasi Alam Paling Ikonik di Nusa Penida
Pesona Pantai Kelingking, Destinasi Alam Paling Ikonik di Nusa Penida

RADAR SURABAYA BISNIS – Indonesia saat ini tengah mengkaji ulang arah kebijakan ekonomi jangka panjang dengan membandingkan sektor industri ekstraktif dan sektor jasa. 

Di tengah fluktuasi harga komoditas global, sektor pariwisata muncul sebagai kandidat kuat yang berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih stabil dan inklusif dibandingkan sektor pertambangan.

Secara statistik, sektor pariwisata nasional tercatat telah menyumbangkan sekitar Rp1.000 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Keunggulan utama sektor ini terletak pada kapasitas penyerapan tenaga kerjanya yang masif, yang kini telah mencapai angka 25 juta orang.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, memberikan gambaran konkret mengenai efektivitas kedua sektor ini saat membandingkan dua wilayah besar di Indonesia dalam rapat di Gedung DPR RI (28/1/2026).

"Kalau kita bandingkan total dari sektor pariwisata di Bali itu output ekonominya dan penyerapan tenaga kerja di bidang pariwisata itu bisa lebih besar ketimbang sektor pertambangan yang ada di Papua," ujar Bonnie.

Ia menekankan bahwa fokus pada pariwisata dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada industri yang bersifat merusak lingkungan.

"Kalau kita mau serius atau mau menyeriusi pariwisata ini kita nggak perlu lagi membuka tambang secara masif. Karena pariwisata itu lebih sustainable," tambahnya.

Meskipun potensinya besar, integrasi antara pemanfaatan lahan untuk ekonomi dan pelestarian tetap menjadi tantangan serius. Masalah ini terlihat jelas pada kawasan cagar budaya seperti Situs Muara Jambi yang memiliki luas 3.000 hektare.

Sebagai pusat peradaban bersejarah, kawasan tersebut saat ini menghadapi tantangan karena bersinggungan langsung dengan aktivitas pertambangan batu bara. 

Bahkan, ditemukan fakta lapangan mengenai adanya temuan arkeologis yang tertimbun oleh tumpukan (stockpile) batu bara di lokasi tersebut.

Selain persoalan lahan, pengamat dan praktisi industri menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam, tetapi juga pada kualitas pelayanan atau hospitality.

Keramahtamahan masyarakat lokal merupakan faktor krusial yang menentukan keberlanjutan kunjungan wisatawan. Masalah seperti pungutan liar atau praktik "tembak harga" dinilai sebagai hambatan utama yang dapat merusak ekosistem pariwisata secara instan.

Indonesia dipandang perlu lebih tekun dalam mengelola narasi sejarah dan budaya di setiap destinasi wisata untuk meningkatkan nilai jual di mata internasional.

Secara keseluruhan, jika Indonesia mampu mengelola narasi budaya dengan profesional dan memperbaiki standar hospitality, sektor pariwisata tidak perlu lagi bersaing secara destruktif dengan alam. 

Transformasi dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berbasis jasa dan pelestarian budaya menjadi kunci bagi pertumbuhan yang lebih merata di masa depan.

Editor : Hany Akasah
#sektor pertambangan #ekonomi pariwisata #pariwisata indonesia #PDB Indonesia #bonnie triyana