RADAR SURABAYA BISNIS – Belanja kebutuhan medis warga Indonesia di luar negeri sangat besar hingga membuat kebocoran devisa. Nilainya disebut-sebut mencapai Rp 165 triliun lebih.
Jumlah itu berasal dari transaksi sekitar dua juta warga Indonesia yang berobat di sejumlah negara, seperti Malaysia, Singapura, Amerika Serikat dan lainnya.
Menyikapi hal ini, pemerintah mulai membangun ekosistem wisata medis dalam negeri yang lebih kuat, kompetitif, dan terintegrasi.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim Dr. dr Sutrisno, Sp.OG (K) mengatakan dengan jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa lebih, Indonesia menjadi market yang bagus untuk industri layanan kesehatan.
“Artinya bahwa ada 280 juta jiwa yang berpotensi sehat sekaligus berpotensi untuk sakit. Ratusan juta orang itu semuanya membutuhkan layanan kesehatan,” ungkap dr. Sutrisno, Selasa (22/7/2025).
Sayangnya, lanjut dr. Sutrisno, potensi itu belum digarap oleh pelaku usaha terkait secara maksimal.
Hal itu menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang akhirnya memilih layanan medis di luar negeri.
“Inilah waktunya kita bekerja sama untuk menggarap potensi yang besar ini agar tidak lari ke luar negeri,” sambungnya.
Dokter (dr) Sutrisno menyebut jika potensi industri layanan kesehatan Indonesia yang sangat besar itu harus di-marketing dengan bagus.
“Kita pasti bisa karena Indonesia mempunyai kemampuan yang luar biasa. Salah satunya contohnya, kita punya dokter-dokter yang kemampuannya tak kalah dengan dokter di luar negeri,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, CEO Medical Tourism Indonesia dr. Niko Azhari Hidayat, SP.BTKV,SubspVE(K) menjelaskan, salah satu langkah nyata untuk membangun ekosistem wisata medis dalam negeri yang lebih kuat, kompetitif, dan terintegrasi dengan menggelar International Medical Wellness Tourism Expo (IMWTE) & IVF Festival 2025.
Perhelatan ini akan digelar di Grand City Mall and Convex Surabaya pada 25 hingga 27 Juli 2025.
Acara ini mempertemukan pelaku layanan kesehatan, klinik fertilitas, rumah sakit, hingga agen perjalanan dan pasien potensial dalam satu panggung besar.
“Wisata medis mempertemukan empat hal, mulai medical tourism, wellness tourism, health service, dan sport tourism,” ungkap dr. Nico.
Ia menjelaskan ekosistem wisata medis dalam negeri masih terkendala dua hal, yaitu kemasan dan SDM.
“SDM kita besar tapi belum fokus. Misalnya, nakes (tenaga kesehatan, Red) belum banyak yang dibekali dengan pemahanan sekaligus skill untuk medical tourism,” ungkapnya.
President Director PT. Matahari Interkreasi—penyelenggara IMWTE & IVF Festival 2025-- Danny Ramdani Sultoni mengatakan, dengan tema Connecting Care Beyond Borders, festival ini tak hanya mempromosikan layanan medis, tapi juga mendorong pertukaran pengetahuan antarpraktisi kesehatan dari dalam dan luar negeri.
Didukung oleh Kementerian Kesehatan, Kemenparekraf, asosiasi kedokteran, dan jaringan rumah sakit, IMWTE & IVF Festival 2025 menjadi ajang kolaborasi lintas sektor, sekaligus langkah nyata menuju Indonesia sebagai pusat wisata medis Asia Tenggara.
“Kami ingin menunjukkan bahwa layanan kesehatan berkelas dunia kini tersedia di Indonesia, dengan biaya terjangkau dan transparan,” kata Danny. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa