RADAR SURABAYA BISNIS – Bisnis hotel biasanya panen saat Lebaran, karena banyaknya masyarakat yang memilih menginap di hotel.
Mereka menginap di hotel saat lebaran, karena beragam alasan.
Mulai dari liburan, ditinggal pembantu hingga menghadiri acara kantor, komunitas atau atau keluarga.
Namun, masa panen industri perhotelan di Jawa Timur tidak terjadi pada Lebaran tahun ini.
Hal itu dibuktikan dengan minimnya tingkat hunian (okupansi) yang dialami industri perhotelan saat libur Lebaran sepekan lalu.
Okupansi rata-rata hotel di Jatim saat Lebaran lalu hanya berkisar 70 persen.
Padahal tahun sebelumnya, tepatnya saat libur Lebaran 2024, okupansi hotel di Jatim bisa mencapai antara 80 hingga 90 persen.
Menurunnya daya beli masyarakat dan efisiensi anggaran pemerintah diduga menjadi penyebab turunnya okupansi hotel di Jawa Timur pada momen Lebaran tahun ini.
Hal tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono, Jumat (11/4/2025).
"Okupansi hotel di Jatim pada Lebaran kali ini turun. Rata-rata hanya 70 persen dibanding Lebaran tahun 2024 kemarin yang mencapai 80 - 90 persen," ujar Dwi.
Penurunan okupansi itu, lanjut Dwi, terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota se Jawa Timur.
Ini terjadi di kawasan destinasi wisata maupun non destinasi. "Padahal wilayah itu biasanya menjadi tujuan masyarakat berlibur waktu lebaran," katanya.
Dwi mengatakan pihaknya sudah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah maupun para stakeholder, agar sektor pariwisata menjadi program prioritas.
"Pariwisata, termasuk hotel dan restoran itu juga harus masuk ke dalam program prioritas," katanya.
Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jatim Adhy Karyono mengatakan bahwa kebijakan efisiensi anggaran tidak menghilangkan kegiatan di hotel, melainkan hanya mengurangi jumlah acara yang digelar.
Adhy mengakui jika pemerintah masih menggelar acara di hotel. Selain itu, jika ada kegiatan luar kota akan menginap di hotel.
"Namun sekarang itu sudah kami kurangi sebagai langkah efisiensi," jelasnya. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa