RADAR SURABAYA BISNIS - Urban Wagyu adalah restoran steak dengan konsep casual dining yang kini menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Surabaya.
Di balik kesuksesan restoran dengan menu andalan creamy mushroom soup, prime steak, dan cheese wheel ini, terdapat kisah inspiratif kakak-adik, Arga Pratama Putra dan Ditra Ramadan, CEO dan COO PT. Lokal Kreasi Indonesia.
Perjalanan mereka menuju kesuksesan, jauh dari kata mulus. Bahkan diwarnai kegagalan pahit yang nyaris menghancurkan impian mereka.
Urban Wagyu, dengan gerai-gerainya yang tersebar di Jalan Opak, Jalan Dharmahusada, dan Jalan Mayjend Yono Soewoyo, menyasar pasar usia 28-40 tahun. Terutama kalangan pekerja kantoran.
Namun, kesuksesan ini bukanlah hal yang instan. Sebelum terjun ke dunia food and beverage (FAB), Arga dan Ditra lebih dulu merintis usaha di bidang fesyen. Memiliki toko dan brand pakaian sendiri sejak tahun 2017.
“Awalnya kita punya mimpi besar,” ungkap Arga, mengenang masa-masa awal berbisnis, Minggu (16/2/2025).
Tapi setelah dijalankan, banyak tantangan, baik internal maupun eksternal. Persaingan bisnis sangat ketat, dan masalah modal juga menjadi kendala besar.
Sayangnya, usaha di bidang fesyen tersebut tidak berjalan mulus. Arga menjelaskan, seiring dengan menjamurnya bisnis online dan masuknya banyak brand luar negeri ke Indonesia, akhirnya menuai kenyataan tantangan bisnis dan harus bangkrut.
"Kita kehilangan daya saing. Kita berjuang selama dua tahun untuk bertahan, tapi akhirnya gagal dan bangkrut. Kita bahkan memiliki hutang yang cukup besar kepada supplier dan pajak," ungkap pria kelahiran Surabaya ini.
Kini, Urban Wagyu berkembang pesat, dan Arga memiliki target yang lebih besar lagi.
“Kita ingin perusahaan ini lebih profesional, bahkan kita berencana untuk listing di bursa efek. Targetnya tengah tahun ini untuk bisa lebih profesional dan masuk bursa,” harapnya.
Namun, Arga juga menyadari bahwa mewariskan bisnis keluarga tidaklah mudah. “Tidak semua anggota keluarga memiliki passion di dunia bisnis,” ujarnya. Oleh karena itu, dirinya ingin membangun tim yang profesional.
Sementara itu kegagalan ketika itu memaksa keduanya untuk menjual aset-aset yang tersisa untuk melunasi hutang. Namun, dari keterpurukan inilah ide Urban Wagyu muncul. “Waktu itu, kami memang suka makan steak,” cerita Arga.
Ditra juga suka memasak, meskipun bukan ahli. Kemudian di tengah jalan, ada yang menawarkan bisnis kuliner wagyu, dan keduanya mencoba jualan itu.
"Dari situlah kita mulai memperdalam ilmu memasak. Karena awalnya kita berjualan melalui online," ujar Ditra.
Mereka memulai bisnis kuliner ini dengan modal minim. “Awalnya kita jualan online, dari Januari 2018 hingga Mei 2019, baru kemudian membuka toko fisik,” jelas Ditra.
Hampir satu setengah tahun kita berjualan online sambil mencicil membeli peralatan.
Ditra menekankan pentingnya dukungan sistem, terutama dari keluarga dan partner bisnis. “Yang paling penting selain mental adalah support system,” katanya.
Dia mencontohkan jika keluarga dan partner bisnis tidak mendukung saat bisnis sedang down, akan jauh lebih hancur. "Untungnya, kami mendapat dukungan penuh dari keluarga," imbuhnya.
Dia juga berbagi pesan penting bagi para pebisnis muda. Menurutnya jangan pernah bangga dengan kesuksesan sesaat.
"Sukses harus dibuktikan dalam jangka panjang, bukan hanya setahun atau dua tahun. Banyak startup yang tumbang karena hanya beruntung di awal, belum menghadapi tantangan dan persaingan yang sesungguhnya," pesannya.
Kisah Arga dan Ditra membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tetapi justru menjadi batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa