RADAR SURABAYA BISNIS - Bagi pecinta jajanan tradisional, pasti sudah tidak asing lagi dengan jajanan satu ini.
Meski bukan asli Surabaya, kue bikang merupakan salah satu jajanan khas Surabaya.
Kue yang berbentuk bulat dan mekar seperti bunga ini terbuat dari campuran tepung beras, santan kelapa dan juga gula.
Kue ini lebih nikmat jika dimakan dalam kondisi hangat. Karena bagian dalamnya terasa lembut.
Salah satu penjual kue bikang di Surabaya adalah di kawasan Peneleh. Toko ini sudah ada sejak tahun 1978.
"Jadi awalnya nenek saya yang jualan di depan gang Lawang Seketeng. Karena makin lama makin ramai akhirnya menyewa tempat, hingga akhirnya di sini," ujar Cintya (32) yang merupakan generasi ketiga penerus Kue Bikang Peneleh.
Cintya menambahkan, awalnya hanya kue bikang saja, kemudian lama kelamaan ditambah jajanan tradisional lainnya.
Untuk satu biji kue bikang di tempat ini dijual Rp 7.000.
"Varian rasanya coklat, pandan dan stroberi," katanya.
Adonan pertama yang dituang biasanya berwarna putih. Yang berikutnya diberi warna sesuai selera.
Di toko Bikang Peneleh, pewarna yang digunakan seratus persen alami.
Warna hijau berasal dari daun pandan, warna cokelat dari cokelat bubuk.
Setelah adonan setengah matang, kue setengah jadi ini diolesi dengan santan, kemudian dicungkil menggunakan alat khusus.
Sekilas penampilannya tak berbeda dari bikang pada umumnya.
Bahan pembuatannya pun sama, yaitu santan, tepung beras, dan gula.
Semua bahan ini diaduk menjadi satu, kemudian dipanaskan di atas cetakan khusus yang sudah diolesi minyak.
Kue Bikang Peneleh sudah memiliki pelanggan loyal, tak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota. (mus/nur)
Editor : Nurista Purnamasari