RADAR SURABAYA BISNIS - Liburan ke museum ternyata menyenangkan.
Museum Penerbangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Museum Penerbangan TNI AL) dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya untuk mengisi hari libur.
Museum yang berlokasi di Jalan Raya Bandara Juanda, Kepuh, Betro, Sedati, Kabupaten Sidoarjo ini merupakan sarana edukasi dan rekreasi bagi pengunjung yang ingin menikmati liburan weekend serta ingin mencari tahu tentang sejarah penerbangan TNI AL dari masa ke masa.
Museum yang diresmikan oleh Laksamana TNI Yudo Margono, Kepala Staf Angkatan Laut pada 24 Juni 20220 ini terletak di Kompleks Lanudal Juanda, sebelah timur Terminal 2 Bandara Juanda.
Museum ini buka setiap hari mulai pukul 07.30 WIB sampai pukul 13.00 WIB.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke museum dapat membeli tiket di Rumah Pintar (Rumpin) Juanda yang berlokasi di sebelum pintu masuk Terminal 2 Bandara Juanda, dengan harga Rp 15.000 sekali masuk.
Pengelola museum menyediakan shuttle bus gratis untuk antar jemput pengunjung menuju museum dan kembali ke Rumpin setiap 30 menit sekali.
Saat tiba di museum, pengunjung diberi arahan terlebih dahulu oleh petugas terkait peraturan yang harus ditaati oleh para pengunjung museum.
Setelah itu pengunjung dapat berkeliling menelusuri area museum.
Serda Subandono, Edukator Museum Penerbangan TNI AL menjelaskan, di dalam Museum Penerbangan TNI AL terdapat banyak koleksi peninggalan sejarah penerbangan TNI AL.
Mulai dari mesin pesawat, seragam pilot, miniatur pesawat TNI AL, dan juga foto-foto para petinggi TNI AL yang telah berjuang penuh demi terwujudnya TNI AL yang profesional, modern, dan tangguh.
Selain itu, terdapat pula ruangan mini cinema yang dapat ditonton oleh pengunjung secara gratis.
Mini cinema tersebut menceritakan bagaimana sejarah perjuangan penerbangan TNI AL dari masa kemerdekaan hingga masa kini.
Museum ini berada satu gedung dengan menara Air Traffic Control (ATC) yang sudah tidak beroperasi.
Dari menara ini, pengunjung dapat melihat secara langsung pergerakan pesawat udara baik take off maupun landing.
Pengunjung juga bisa seolah-olah menjadi petugas pengatur lalu lintas udara karena masih ada peralatan ATC tetapi sudah tidak berfungsi lagi.
Di area apron (tempat parkir pesawat udara), terdapat pesawat bekas Merpati Airlines Boeing 737-400.
Pengunjung dapat masuk ke pesawat tersebut dan menelusuri isi dari pesawat mulai dari kursi penumpang hingga masuk ke dalam kokpit pesawat.
Tidak hanya itu, para pengunjung juga dapat menikmati suasana lalu lintas penerbangan di Bandara Juanda secara langsung dengan jarak yang cukup dekat.
“Di Bandara Juanda atau pangakalan militer ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang orang umum bisa masuk ke apron tanpa memiliki kartu pas bandara. Karena di sini pasnya langsung dari Museum Penerbangan,” ungkap Serda Subandono.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, setiap hari kerja Senin hingga Jumat, museum ini khusus untuk lembaga pendidikan.
Tidak kurang 15 hingga 20 lebih lembaga pendidikan atau sekitar 1.000 -1.500 siswa dari lembaga pendidikan tingkat Play Group (PG) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) berkunjung ke museum ini tiap hari.
Khusus untuk hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional, museum ini dibuka untuk umum.
Museum ini sangat cocok untuk dijadikan destinasi wisata edukasi dan rekreasi bagi masyarakat umum.
Mulai dari harga tiket masuk yang sangat murah, koleksi peninggalan sejarah TNI AL yang banyak, hingga dapat melihat secara langsung lalu lintas pesawat udara di Bandara Juanda.
Tentu saja hal ini menjadi alasan mengapa museum ini selalu ramai pengunjung setiap weekend dan hari libur nasional.
“Museum ini sebagai sarana edukasi bagi orang tua kepada anaknya yang tertarik pada kedirgantaraan. Mudah-mudahan dari seluruh pengunjung bisa mengambil bagian pengalaman. Dari pengalaman ini nantinya bisa menjadi benih-benih asa menuju cita-cita bagi putra putrinya,” harap Serda Subandono. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari