SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Pemkot Surabaya kini tengah gencar dalam penataan Kota Lama.
Kawasan Kota Lama menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Kota Pahlawan.
Selain menarik wisatawan, revitalisasi Kota Lama juga untuk melestarikan warisan budaya dan Sejarah yang ada di kota ini.
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya telah memiliki banyak bangunan konvensional modern di berbagai titik kotanya.
Bahkan, dua mal terbesar di Indonesia berlokasi di Surabaya. Namun, sebagai Kota Pahlawan, Surabaya tidak pernah menghapuskan nilai-nilai historikal yang pernah hidup di kotanya.
Keberlanjutan dalam pengembangan Kota Lama ini diperlukan agar bangunan dengan nuansa kental Eropa itu hidup dan bermanfaat bagi masyarakat sekaligus mengembangkan wisata heritage di Surabaya
Pengamat sejarah, Prof Purnawan Basundoro mengatakan, dalam rencana jangka panjangnya, penataan wilayah menjadi hal yang harus dilakukan.
Tidak hanya satu kawasan saja, tetapi juga diperluas ke kawasan Kota Lama lainnya.
Dengan penataan yang baik, tempat-tempat tersebut dapat menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan.
“Untuk jangka panjangnya, saya pikir itu mengenai bagaimana agar bangunan-bangunan bersejarah yang ada, bukan hanya yang telah ditetapkan, tetapi seluruh kawasan menjadi tertata secara keseluruhan, sehingga menjadi lebih nyaman untuk orang-orang berkunjung,” kata Prof Purnawan, Rabu (19/6).
Pria yang juga menjadi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) kota Surabaya itu mengatakan, Surabaya memiliki Kota Lama yang terbagi atas beberapa kawasan.
Mulai kawasan Pecinan, Arab, hingga Eropa yang baru saja selesai direvitalisasi.
Kawasan di jalanan Rajawali Surabaya itu dipenuhi dengan bangunan-bangunan bernuansa Eropa yang dulunya diisi dengan berbagai aktivitas kolonial Belanda pada masanya.
“Dulunya pada abad ke-18, terdapat beberapa aktivitas, mulai pemukiman, perkantoran seperti kantor residen, polisi, hingga kantor militer. Jadi, memang sebagian besar kawasan tersebut merupakan kawasan untuk pejabat kolonial,” terangnya.
Bangunan-bangunan yang ada, perlu dipertahankan corak ataupun gaya bangunannya yang merupakan salah satu cagar budaya yang dimiliki.
Oleh karena itu mengusulkan penataan wilayah bersejarah yang lebih terintegrasi.
Prof Purnawan menyebut, tema-tema dari aspek kesejarahan dapat menjadi satu kesatuan, sehingga dapat lebih memikat masyarakat untuk berwisata ke Surabaya.
“Ada tema perkantoran, religi, perdagangan yang berupa pasar-pasar tradisional, tema transportasi darat maupun sungai, tema etnis dan tema perkampungan yang ada di Surabaya. Jadi semua tema itu akan diintegrasikan menjadi satu kesatuan,” tutur sejarawan dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) itu.
Sebagai seorang akademisi sebagai pengamat sejarah kota, dia akan terus memberikan masukan terhadap gaya bangunan hingga budaya di Surabaya.
Apalagi dia terlibat dalam penulisan narasi-narasi yang ada pada bangunan bersejarah yang ada pada kawasan Kota Lama.
Baca Juga: Punya Pelabuhan Besar, Jatim Jadi Pusat Gravitasi Ekonomi Indonesia
Sehingga tidak hanya sebagai destinasi wisata, kawasan Kota Lama juga dapat menjadi media edukasi bagi para pengunjung.
“Karena dibutuhkannya narasi sejarah yang sebisa mungkin harus mampu menjelaskan kawasan ataupun bangunan di sana dari aspek kesejarahannya,” pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari