RADAR SURABAYA BISNIS - Mungkin bagi beberapa orang, menikmati pagi dengan santai menghirup udara pagi bersama secangkir minuman hangat masih dilakukan.
Tapi tak banyak orang menikmati roti kompyang di pagi hari, bahkan mungkin tidak tahu apa itu roti kompyang.
Bagi masyarakat yang hidup di tahun 1990-an tak asing dengan nama roti ini.
Langsung yang terbersit adalah roti setengah lingkaran dan keras.
Roti kompyang ini tak seperti roti sekarang yang dibuat selembut dan seempuk mungkin.
Roti kompyang atau roti baru seperti namanya yang keras seperti batu.
Bahkan kompyang konon nama itu diambil dari suara roti itu ketika dilempar.
"Roti ini masuk pada abad pertengahan dan lekat dengan masyarakat Surabaya. Roti ini dibawa oleh imigran asal Tiongkok," kata Pegiat Sejarah Surabaya Nur Setiawan kepada Radar Surabaya.
Masyarakat dulu memakan kompyang pada pagi hari bukan tanpa alasan.
Tekstur roti berhias wijen di atasnya ini memang keras. Ini dipercaya masyarakat sebagai pengganjal perut atau penghilang lapar kala itu. Kerasnya roti ini membuatkan tidak bisa digigit langsung.
"Harus dicelupkan ke minuman hangat bisa kopi atau teh, bisa juga dengan kuah santan. Tujuan dibuat keras agar tetap kenyang saat berkegiatan," tuturnya. (gun/nur)
Editor : Nurista Purnamasari