SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Saat mudik lebaran ke kampung halaman tak afdol jika kembali tak membeli oleh-oleh khas daerah tersebut.
Mudik dan balik membawa oleh-oleh khas seperti sudah menjadi tradisi yang melekat di masyarakat.
Ramainya pemudik yang berburu oleh-oleh juga terlihat di pusat oleh-oleh di kawasan Genteng, Surabaya.
Para pemudik yang berasal dari luar kota Surabaya berburu oleh-oleh khas Surabaya, rata-rata mereka membeli dalam jumlah banyak.
Seperti Rosa, salah satu pemudik yang hendak balik ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan menyempatkan membeli oleh-oleh sebelum terbang ke Banjarmasin.
Ia terlihat memborong oleh-oleh yang rencananya untuk teman, tetangga serta keluarga yang di Banjarmasin.
"Hari ini mau pulang ke Banjarmasin, beli oleh-oleh dulu mumpung sedang mudik di Surabaya," ujar Rosa.
Ia mengaku membeli rengginang, sambel khas Surabaya, kerupuk, dan kripik tahu. Oleh-oleh ini menurutnya sangat enak dan jarang ada di Banjarmasin.
"Ya beli banyak karena kemarin sempat direkomendasikan sama saudara di Surabaya oleh-oleh yang jarang dijumpai di Banjarmasin," terangnya.
Rosa dan keluarganya sudah tujuh tahun tidak mudik ke kampung halamannya di Surabaya.
Momen lebaran ini juga dimanfaatkan juga untuk menikmati makanan khas serta wisata yang ada di Surabaya. "Ya, baru tahun ini mudik. Selama tujuh tahun nggak mudik," imbuhnya.
Sementara itu, menurut manager toko oleh-oleh Khas Surabaya, Prapto, pemudik mulai berburu oleh-oleh sejak Jumat (12/4).
Mereka rata-rata suka oleh-oleh seperti spiku, almond crispy chips, terung, teripang serta bandeng asap.
"Ramainya mulai Jumat kemarin dan Sabtu. Sekarang ini sisa-sisanya pemudik yang mau balik ke tempat asalnya," terang Prapto.
Saking ramainya, pihaknya sampai kehabisan stok barang, seperti spiku. Padahal jauh hari ia sudah menambah stok oleh-oleh.
"Spiku sampai sekarang stoknya masih kosong, mungkin besok baru ada," ujarnya.
Harga oleh-oleh di toko tersebut bervariasi, mulai Rp 12 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung dari jenis dan kualitasnya.
Prapto mengaku lebaran tahun ini memang terjadi peningkatan penjualan, namun tidak seperti tahun lalu yang ramai saat sebelum lebaran.
"Ya ramai sih lebaran tahun ini, ya lumayan lah bisa naik 30 persen penjualan. Tapi tahun lalu lebih ramai. Karena pembeli ramai sebelum lebaran. Sekarang malah kebalikannya," ungkap Manager Toko Sudi Mampir itu.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ramainya pembeli setelah lebaran, karena banyaknya masyarakat yang mudik ke Surabaya.
"Kalau tahun lalu masyarakat banyaknya membeli sebelum mudik. Tapi sekarang malah terbalik," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari