Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bubur Manggul, Kuliner Khas Madura Yang Hanya Bisa Ditemui di Surabaya Utara

Nurista Purnamasari • Jumat, 16 Februari 2024 | 02:04 WIB
PAKAI TABURAN BUBUK KEDELAI: Bubur manggul merupakan kuliner unik perpaduan bubur sumsum dan lontong.
PAKAI TABURAN BUBUK KEDELAI: Bubur manggul merupakan kuliner unik perpaduan bubur sumsum dan lontong.

SURABAYA – Bagi sebagian orang mungkin masih asing mendengar nama bubur manggul.
Tidak seperti bubur sumsum atau bubur ayam banyak dijual dan mudah ditemukan di Surabaya, penjual bubur manggul memang jarang ditemui.

Bubur manggul merupakan salah satu makanan khas Madura. Sekilas penampilan bubur manggul ini mirip bubur sumsum. Namun faktanya, perbedaannya sangat banyak.

Berbeda dengan bubur sumsum yang cenderung manis, bubur manggul memiliki cita rasa yang gurih. Bahan baku utama dari bubur manggul adalah udang.

Selain itu, yang membedakan bubur sumsum dengan bubur manggul adalah adanya lontong.
Untuk membuat bubur manggul, selain udang, juga diperlukan bumbu dapur lainnya.

Cara pembuatannya yaitu dengan mencampurkan bahan bubur sumsum (tepung beras dan santan) dengan bumbu halus.

Bumbu halus dibuat dari udang, bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai keriting, lengkuas, kemiri, ketumbar, merica dan garam.

Penyajian bubur sumsum yaitu dengan lontong, bubur manggul di atasnya, dan bubuk kacang kedelai sebagai toping. Selain itu, bisa juga diberi tambahan toping udang atau rebon.

Salah seorang penjual bubur manggul yang masih ada di Surabaya adalah Sumi.

Sumi sudah berjualan bubur manggul selama 27 tahun. Dia mengatakan, terlepas dari pamor bubur manggul yang mulai turun, dirinya masih memiliki banyak pelanggan setia.

“Saya masak bubur manggul di siang hari, lalu berjualan keliling kampung sini setelah salat ashar. Biasanya selain beli bubur manggul, orang-orang juga beli ketan,” ujar wanita paruh baya tersebut.

Sumi mengaku bahwa dirinya tidak menemui kesulitan tertentu saat berjualan bubur manggul.

“Sulitnya sih ya kalau hujan dagangan saya jadi sepi pembeli. Selain itu ya aman-aman saja,” jelasnya.

Di sisi lain, ia berharap bubur manggul bisa lebih tenar di kalangan masyarakat, terutama kaum muda.

Handoko, pelanggan setia bubur manggul ini menyayangkan semakin sedikitnya jumlah penjual bubur manggul.

“Dulu masih banyak yang jualan bubur manggul, apalagi di daerah Krembangan. Sekarang saya jarang nemu yang jual bubur manggul. Mungkin karena peminatnya berkurang. Maklum, anak muda sekarang mana tahu yang namanya bubur manggul,” jelas pria 46 tahun itu.

Meski demikian, penjual bubur manggul masih bisa ditemukan di area pemukiman atau pasar yang banyak dihuni etnis Madura. Seperti di daerah Krembangan, Pasar PPI, dan Pasar Atom.

Siti, salah satu penjual bubur manggul menuturkan, bubur manggul memang hanya bisa dijumpai di kawasan Surabaya Utara saja. “Sedangkan di kawasan lainnya tidak ada,” tuturnya.

Mayoritas penjual bubur manggul ini berasal dari Madura atau keturunan Madura.

Bubur manggul hanya ditemui di Surabaya, karena dari daerah aslinya di Madura, tidak ada yang jualan.

"Karena tidak laku, karena orang sana bisa bikin sendiri, jadi ndak mau beli. Di daerah aslinya manggul dimakan dengan nasi saja," terangnya. (nad/mus/opi)

Editor : Nurista Purnamasari
#madura #surabaya #bubur manggul #kuliner