SURABAYA – Selain pernak pernik hingga lampion, serta ibadah di kelenteng, Tahun Baru Imlek juga identik dengan menu-menu makanan khas Tionghoa. Salah satunya yakni mie.
Menjadi keharusan bagi orang yang merayakan untuk mengkonsumsi mie, karena dipercaya bisa memberikan hoki (keberuntungan), kebahagiaan, serta umur panjang.
Apalagi jika makan mie mulai ujung hingga sampai tak tersisa. Oleh karena permintaan mie saat momen jelang Imlek selalu melonjak.
Salah satunya yakni Misua Marga Mulya yang sudah diproduksi sejak 1948 di kawasan Pesapen Selatan, Surabaya ini.
Industri rumahan yang sudah 76 tahun eksis ini juga ketiban hoki karena banyaknya pesanan dari berbagai daerah di Indonesia.
Menjelang Tahun Baru Imlek, produksi mie tradisional Tiongkok ini bisa mencapai 1 ton.
Berbeda dengan hari-hari biasa yang hanya menghabiskan sekitar 600 kilogram tepung untuk pembuatan mie.
"Satu bulan sebelum Imlek pesanan meningkat otomatis produksi mencapai 1 ton," kata pemilik pabrik Misua Marga Mulja, Jeffry Sutrisno, Jumat (26/1).
Pria yang menjadi pewaris generasi ketiga itu menjelaskan, pengiriman misua selama Imlek dilakukan ke berbagai daerah, seperti Manado, Ambon, hingga Kalimantan. Bahkan pembeli sudah pesan satu bulan sebelum Imlek.
Sedangkan untuk di Pulau Jawa biasanya dua minggu sebelum perayaan Imlek pembelian mulai melonjak.
"Puncaknya pemesanan seminggu sebelum Imlek biasanya," tuturnya.
Yang membedakan misua dengan mie biasa adalah resep turun temurun yang dipertahankan.
Tak hanya itu, pembuatan misua juga masih menggunakan alat tradisional dan masih memanfaatkan sinar matahari udara untuk proses penjemuran.
"Kita butuh alam, yang jelas pembentukan jauh lebih bagus. Karena kita jemur di tampah, setelah itu kita masukan oven. Kalau masuk oven langsung jadinya jelek.
Kami juga masih mempertahankan resep dan peralatan tradisional kami," terangnya.
Karyawan di pabrik mie tersebut juga cukup loyal. Mereka sudah bekerja puluhan tahun. Bahkan ada yang sampai 30 tahun bekerja di sana.
"Kami mempunyai 25 karyawan, usia kerja mereka ada yang 30 tahun, bahkan kemarin ada yang pensiun karena sudah 37 tahun bekerja di sini," ungkapnya.
Selain memproduksi misua dan mie telor yang berwarna kuning, pihaknya juga mengikuti perkembangan zaman.
Yakni dengan memproduksi misua instan yang saat ini sudah ada tiga rasa, yakni rasa ayam bawang, kare dan misua goreng.
"Kita juga mengikuti zaman, kita mengeluarkan produk instan yang masaknya mudah. Sudah setahun dan sudah beredar," ujarnya.
Meski demikian, Jeffry mengaku akan mengembangkan bisnis turun temurun tersebut.
Selama 76 tahun berproduksi di Pesapen Selatan, Surabaya, Jeffry akan memindahkan produksi mie misuwa ke Ngelom, Sidoarjo tahun ini.
Tak hanya menjadi pabrik produksi misua, industri rumahan ini juga sering kali menjadi jujukan wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh makanan khas Tiongkok ini. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari