Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Bakcang Peneleh, Berawal dari Membantu Suami hingga Eksis Dicari Pembeli

Fajar Yuliyanto • Senin, 22 Januari 2024 | 16:38 WIB
TETAP EKSIS: Wiwik menunjukkan bakcang yang telah matang usai dikukus di rumahnya di Jalan Peneleh.
TETAP EKSIS: Wiwik menunjukkan bakcang yang telah matang usai dikukus di rumahnya di Jalan Peneleh.

SURABAYA - Bakcang atau bacang merupakan makanan jajanan pasar yang dibungkus dengan daun bambu dan diikat dengan tali.

Kata bakcang sendiri berasal dari kata bak artinya daging, dan cang artinya berisi.

Jadi bakcang merupakan makanan yang dibuat dengan nasi atau ketan dan diisi daging ayam dan daging babi kemudian dibungkus dengan daun bambu dan diikat.

Bakcang sendiri berasal dari Tiongkok. Awalnya berasal dari seorang Menteri bernama Quyuan yang berasal dari negara Chu yang kini disebut Hubei.

Pada saat itu keluarganya tidak menyetujui Quyuan untuk menemui rajanya yang telah wafat.

Sehingga akhirnya Quyuan membuat daging dan nasi yang dibalut dengan daun bambu dan diikat dengan tali hingga berbentuk segitiga.

Di Surabaya sendiri terdapat Bakcang yang cukup terkenal dan masih eksis hingga saat ini.

Sekitar tahun 1978 ada pasangan suami istri yang tinggal di Kawasan Peneleh. Waktu itu Oei Kong Giok,72, ingin membantu suaminya untuk kebutuhan ekonomi rumah tangganya.

DIBENTUK SEGITIGA: Bakcang merupakan makanan asal dari Tiongkok yang dibuat dari beras atau ketan diisi daging dan dibungkus dengan daun bambu.
DIBENTUK SEGITIGA: Bakcang merupakan makanan asal dari Tiongkok yang dibuat dari beras atau ketan diisi daging dan dibungkus dengan daun bambu.

Sehingga Oei Kong Giok membuat bakcang dan dijual di daerah Kembang Jepun, Undaan, Tambak Bayan dan Pasar Atom.

"Awalnya bantu suami untuk memcukupi kebutuhan ekonomi. Karena suami saat itu kerja di Mojokerto di tempat selepan beras (penggilingan beras)," kata Oei Kong Giok kepada Radar Surabaya.

Sementara itu, Oei Kong Giok yang didampingi anaknya, yaitu Wiwik menjelaskan, bukan hanya menjual bakcang, namun saat itu juga menjual bakpao.

Tetapi seiring waktu, akhirnya bakpaonya dikurangi dan lebih fokus ke bakcang.

"Memang dulu bukan hanya bakcang tapi juga bakpao. Cuma fokus sama bakcangnya yang dikembangkan," ucap Wiwik yang menemani ibunya.

Menurut perempuan,49 itu, untuk saat ini bakcang yang dibuatnya sudah banyak variasi, mulai dari bakcang babi biasa, bakcang babi telur, bakcang ayam, kue cang, bakcang spesial, bakcang babi loh dan bakcang vegetarian.

Meskipun sudah puluhan tahun, namun hingga kini resep yang digunakan tetap sama.

Mereka mencoba mempertahankan resep otentik sambil berinovasi memnyesuaikan permintaan pasar. Saat ini Oei Kong Giok dan Wiwik membuat ratusan bakcang setiap harinya dan dibantu lima karyawan.

Bakcang Peneleh memiliki pelanggan yang tersebar di Kota Surabaya. Tidak lagi menjualnya sendiri secara berkeliling seperti dulu.

Kini sudah ada penjual yang memasarkan bakcang buatan Oei Kong Giok dan beberapa tempat yang memang secara rutin memesan bakcangnya.

"Semoga makanan bakcang ini bisa terus berkembang lebih maju dan perekonomian bertambah," pungakas Wiwik. (jar/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#peneleh #surabaya #Bakcang