radarsurabayabisnis.id – Kapan sebenarnya pendingin udara atau AC mulai digunakan di dalam gerbong kereta api? Jauh sebelum perjalanan dengan kereta identik dengan kabin sejuk dan nyaman seperti sekarang, persoalan udara panas di dalam gerbong ternyata sudah menjadi perhatian sejak zaman kolonial.
Catatan mengenai rencana penggunaan pendingin udara di kereta api pernah dimuat harian Sin Tit Po edisi 8 Juli 1936 yang terbit di Surabaya.
Baca Juga: Desain Flyover Gedangan Sidoarjo Bakal Siap Hadapi Double Track dan Kereta New Gen
Kala itu, Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, telah memikirkan pemasangan pendingin udara pada gerbong penumpang.
Namun, penerapannya tidak mudah. Pemasangan AC dinilai lebih memungkinkan dilakukan pada gerbong kelas 1 dan kelas 2. Sementara gerbong kelas 3 yang banyak digunakan masyarakat pribumi dan penumpang kelas ekonomi belum menjadi prioritas.
Dilema Penumpang: Kepanasan atau Kena Jelaga
Pada masa itu, salah satu cara paling sederhana untuk mengatasi udara panas di dalam gerbong adalah membuka jendela ketika kereta berjalan.
Baca Juga: Spesial HUT ke-81 KAI 28 September 2026, Beli Tiket Kereta Api Cukup Bayar 81 Persen!
Masalahnya, membuka jendela justru menimbulkan persoalan baru, terutama pada gerbong kelas 3 yang berada di belakang lokomotif uap.
Lokomotif yang menggunakan batu bara atau kayu menghasilkan abu dan jelaga. Ketika jendela gerbong dibuka, udara memang menjadi lebih segar, tetapi debu dan jelaga dari lokomotif juga bisa beterbangan masuk ke dalam gerbong.
Penumpang akhirnya menghadapi pilihan yang tidak mudah. Jendela ditutup agar pakaian dan wajah tidak dipenuhi abu, tetapi udara di dalam gerbong menjadi panas dan pengap.
Sebaliknya, jika jendela dibuka, udara segar memang masuk, tetapi debu dan jelaga ikut beterbangan.
AC Dinilai Lebih Cocok untuk Kereta Diesel
Melihat persoalan tersebut, pihak SS menilai pemasangan pendingin udara bisa menjadi solusi yang lebih efektif.
Namun, penerapan AC dinilai lebih memungkinkan pada kereta api bermesin diesel dibandingkan kereta api uap.
Pertimbangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kenyamanan penumpang sebenarnya sudah menjadi perhatian pengelola kereta api sejak puluhan tahun lalu.
Hanya saja, teknologi, biaya, serta jenis lokomotif dan gerbong pada masa itu membuat penerapan pendingin udara tidak semudah seperti sekarang.
Kereta Ekonomi Masih Tanpa AC hingga Awal 2000-an
Menariknya, persoalan gerbong tanpa AC tidak berhenti pada masa kolonial.
Hingga awal 2000-an, masih terdapat sejumlah kereta api di Indonesia yang belum menggunakan pendingin udara, terutama kereta kelas ekonomi bawah.
Salah satunya Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan yang melayani perjalanan Surabaya–Pasar Senen, Jakarta.
Pada masa itu, membuka jendela menjadi kebiasaan penumpang untuk mendapatkan udara segar selama perjalanan.
Kondisinya tentu jauh berbeda dengan kereta api masa kini. Hampir seluruh gerbong penumpang telah dilengkapi AC sehingga perjalanan jarak jauh menjadi lebih sejuk dan nyaman.
Dari persoalan udara panas pada 1930-an hingga kabin berpendingin seperti sekarang, perjalanan kereta api di Indonesia ternyata memiliki cerita panjang soal kenyamanan penumpang.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surabaya