RADAR SURABAYA BISNIS – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat kenaikan konsumsi Pertalite dan solar subsidi menyusul naiknya harga BBM nonsubsidi sejak Juni 2026. Pelebaran selisih harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi dinilai menjadi faktor utama pendorong masyarakat beralih ke BBM bersubsidi.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan, meski harga sejumlah BBM nonsubsidi sempat turun pada akhir Agustus 2026, selisihnya dengan BBM subsidi tetap lebar.
"Disparitas harganya ini masih cukup lebar, cukup tinggi, dan masyarakat banyak melakukan shifting penggunaannya kepada BBM subsidi dan kompensasi negara," ujar Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal Tewaskan 157 Orang, Ratusan Wisatawan Masih Hilang
Tren kenaikan mulai terlihat sejak harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter, dan Pertamax Turbo menjadi Rp20.750 per liter pada 10 Juni 2026, sementara harga Pertalite tetap di Rp10.000 per liter. Sebelum penyesuaian harga tersebut, rata-rata konsumsi Pertalite berada di level 75.795 kiloliter (KL) per hari.
Setelah kenaikan harga Pertamax, konsumsi Pertalite naik 9,19 persen menjadi 82.760 KL per hari pada Juni 2026. Kenaikan berlanjut pada Juli 2026 sebesar 12,92 persen menjadi 85.589 KL per hari.
Memasuki Agustus 2026, saat harga Pertamax turun menjadi Rp15.950 per liter, Pertamax Green menjadi Rp16.600 per liter, dan Pertamax Turbo menjadi Rp18.300 per liter, konsumsi Pertalite tetap tercatat naik 11,31 persen menjadi rata-rata 84.368 KL per hari.
Baca Juga: Resmi Dibuka Prabowo Hari Ini, Cek Agenda Lengkap Muktamar ke-35 NU
"Konsumsi Pertalite ini cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," kata Wahyudi.
Akibat lonjakan ini, sejumlah wilayah tercatat mengalami konsumsi Pertalite yang melebihi alokasi yang ditetapkan, meliputi Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, serta Maluku dan Papua. Meski demikian, Wahyudi menjamin penyaluran Pertalite secara nasional masih dalam kondisi aman.
"Posisi di sebagian provinsi tersebut memang mengalami kenaikan, namun kaitannya dengan alokasi yang telah diberikan, insyaallah masih cukup untuk disalurkan kepada masyarakat," tuturnya.
Baca Juga: Bantah Ekonomi Indonesia Lesu, Airlangga Beberkan 3 Fakta yang Bikin Optimistis
Konsumsi solar subsidi turut mengalami kenaikan serupa, didorong peningkatan aktivitas logistik di sejumlah wilayah seperti Jawa Timur, Surabaya, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, hingga Makassar. Rata-rata penyaluran solar subsidi naik dari 50.624 KL menjadi 58.271 KL per hari, dengan kenaikan tertinggi tercatat pada Agustus 2026 sebesar 15,10 persen.
"Ini khusus solar dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan," kata Wahyudi.
Selain BBM, konsumsi elpiji (LPG) bersubsidi 3 kilogram juga diperkirakan kembali melebihi kuota. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyebut konsumsi LPG subsidi konsisten melampaui kuota dalam tiga tahun terakhir, dengan prognosa konsumsi pada 2026 diperkirakan menembus 8,67 juta metric ton, atau 108,46 persen dari kuota APBN.
Baca Juga: 3 Cara Baru WhatsApp Lindungi Akun Kamu dari Phishing dan Hacker
"Secara umum konsumsi LPG kita dari tahun ke tahun memang terus meningkat. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengurangi beban dari meningkatnya konsumsi LPG ini," pungkas Laode.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surbaya Bisnis