RADAR SURABAYA BISNIS – Tim gabungan TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus memaksimalkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung.
Penanganan kini diperkuat dengan teknologi drone thermal, pasukan khusus, hingga strategi pemadaman udara lewat water bombing.
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, mengatakan langkah awal tim gabungan adalah memetakan titik-titik rawan menggunakan drone thermal, guna mendeteksi bara api yang masih berada di bawah permukaan tanah dan berpotensi memicu kebakaran susulan.
Baca Juga: 3 Orangutan Dievakuasi di Tengah Kabut Asap Karhutla Ketapang, Butuh Waktu 8 Jam
"Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan thermal untuk melihat titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menyebabkan kebakaran berulang. Selanjutnya, sesuai instruksi Presiden dan Panglima TNI, kita menerjunkan Tim Alfa ke lokasi-lokasi sulit yang masih menyisakan hotspot," ujar Kristomei, Selasa (25/8/2026).
Ia menjelaskan, pengerahan pasukan juga dilakukan dengan metode fast roping guna menjangkau kawasan yang sulit diakses lewat jalur darat, sekaligus mempercepat proses pemadaman di lokasi yang terisolasi.
Selain itu, tim menyiapkan water bombing untuk menurunkan suhu di sekitar titik-titik hotspot, dengan tambahan drone semprot berkapasitas 16 liter, 30 liter, hingga 100 liter yang dapat beroperasi bolak-balik menyiram kawasan yang tidak terjangkau berjalan kaki.
Baca Juga: Kepala BKN Respons Isu ASN Terancam Digantikan AI: Hanya Alat Bantu Kerja
Berdasarkan data penanganan di lapangan, kebakaran telah berdampak pada ratusan hektare lahan di sejumlah titik kawasan TNWK. Pada 21-22 Agustus 2026, kebakaran melanda sekitar 673 hektare di Desa Braja Harjosari.
Kebakaran kemudian meluas pada 23-24 Agustus, berdampak pada 123 hektare di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur, serta 6,4 hektare di Rantau Jaya.
Kristomei menyebut sebagian besar area yang terbakar merupakan ekosistem savana atau padang alang-alang yang mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api.
Baca Juga: Danantara Bidik Tambahan Rp88 Triliun dari Ekspor SDA, Ini Strateginya
"Langkah cepat ini diprioritaskan untuk mengamankan kawasan TNWK sekaligus melindungi satwa liar dilindungi seperti gajah dan badak sumatra dari dampak asap dan api," ujarnya.
Penanganan karhutla di TNWK terus dikoordinasikan lintas instansi, mulai dari TNI, Polri, hingga pemerintah kabupaten setempat, guna mempercepat pemadaman sekaligus mencegah meluasnya dampak kebakaran terhadap ekosistem dan satwa liar di kawasan konservasi tersebut.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Surbaya Bisnis