Waspada! Ahli UI Sebut Polusi Udara Musim Kemarau Picu Kasus ISPA

Hany Akasah • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:31 WIB
POLUSI UDARA: Ahli FKM UI peringatkan polusi udara dan asap karhutla di musim kemarau rentan memicu penyakit ISPA.
POLUSI UDARA: Ahli FKM UI peringatkan polusi udara dan asap karhutla di musim kemarau rentan memicu penyakit ISPA.

RADAR SURABAYA BISNIS – Peningkatan polusi udara selama musim kemarau berisiko tinggi memicu berbagai gangguan pernapasan di masyarakat, salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hal ini disoroti oleh pakar kesehatan lingkungan seiring dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah.

Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. R. Budi Haryanto, menjelaskan bahwa kondisi kering selama musim kemarau sangat memengaruhi kualitas udara yang kita hirup sehari-hari.

"Kaitannya dengan kemarau, dari kondisi kering dan berbagai sumber seperti debu serta emisi pembakaran, kualitas udara memburuk. Ketika terhirup, hal ini memicu iritasi pada saluran napas," ujar Budi.

Baca Juga: BGN Tutup 1.300 Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Perketat Keamanan Pangan

Meningkatnya Risiko Infeksi dan Bahaya Karhutla

Lebih lanjut, Budi memaparkan bahwa saluran pernapasan yang teriritasi akibat polusi menjadi lebih rentan terhadap serangan virus dan bakteri. Dampaknya pada setiap individu bisa berbeda, sangat bergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.

Selain polusi harian, Budi juga mengingatkan bahaya ganda dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di musim kemarau. Asap ini membawa senyawa kimia beracun seperti karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida.

"Senyawa-senyawa ini tidak hanya menyebabkan ISPA, tetapi bisa berdampak lebih dalam memicu berbagai penyakit sistemik lainnya," tegasnya.

Baca Juga: Kisah Pengungsi Gempa Nagekeo: Krisis Air Bersih hingga Perahu Nelayan Hancur

Peringatan BMKG: Ancaman Heat Stroke

Ancaman kesehatan di musim kemarau tidak hanya datang dari udara kotor. Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, turut mengimbau masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem.

Ardhasena menjelaskan, minimnya tutupan awan di musim kemarau memicu lonjakan suhu udara. Oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai dua hal sekaligus: paparan polusi udara dan suhu panas ekstrem yang berisiko memicu sengatan panas (heat stroke).

Baca Juga: Ratusan Ribu Unit Rumah Tersalurkan untuk Masyarakat di Semester I 2026

Cara Melindungi Diri

Untuk menekan risiko gangguan kesehatan, para ahli menganjurkan masyarakat terutama yang berada di wilayah terdampak asap dan polusi tinggi untuk meminimalkan aktivitas di luar ruangan. 

Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan masker sangat direkomendasikan guna menyaring partikel berbahaya yang ada di udara.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surbaya Bisnis
ispa pakar polusi udara bmkg kesehatan