radarsurabayabisnis.id - KA Gaya Baru Malam, Kereta Api Indonesia, Sejarah Kereta Api, Kereta Ekonomi, Surabaya Jakarta, Nostalgia Surabaya, PT KAI, Kereta Jadul, Transportasi Indonesia, Sejarah Surabaya
Perjalanan menggunakan kereta api kelas ekonomi pada masa lalu menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satu yang paling membekas adalah suasana di dalam KA Gaya Baru Malam rute Surabaya–Jakarta. Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, gerbong kereta dipenuhi penumpang, sementara pedagang asongan bebas keluar masuk menawarkan dagangan langsung kepada penumpang.
Bagi banyak orang, perjalanan menggunakan KA Gaya Baru Malam bukan sekadar berpindah kota. Kereta ini menjadi saksi kehidupan masyarakat dengan segala dinamika yang kini sudah tidak lagi ditemui pada layanan kereta modern.
Baca Juga: Tak Ada Ampun Nekat Merokok di Kereta, 68 Penumpang Diturunkan Paksa oleh KAI Daop 8 Surabaya
Asongan Bebas Berjualan di Dalam Gerbong
Pada era 1980-an, pedagang asongan menjadi pemandangan yang sangat akrab di dalam gerbong kereta ekonomi. Mereka berjalan menyusuri lorong yang sempit sambil membawa dagangan di tangan maupun keranjang.
Beragam makanan dijajakan, mulai dari nasi pecel, gorengan, makanan ringan, buah-buahan, hingga air minum. Dalam sebuah foto dokumentasi lawas, terlihat seorang pedagang nasi pecel perempuan menawarkan dagangannya di tengah padatnya gerbong KA Gaya Baru Malam.
Meski harus berdesakan dengan penumpang, para pedagang tetap berkeliling dari satu kursi ke kursi lainnya demi mendapatkan pembeli.
Gerbong Penuh Penumpang hingga Lorong Dipadati Penumpang
Suasana tersebut ternyata masih bertahan hingga memasuki era 2000-an. Wahyu, warga Rungkut, Surabaya, mengaku masih merasakan pengalaman serupa saat rutin bepergian menggunakan KA Gaya Baru Malam sekitar 2007.
Baca Juga: Bidik Pasar Premium, Kereta Panoramic KAI Catat Lonjakan Penumpang 62,32 Persen Tahun Ini
Menurutnya, kereta ekonomi menjadi pilihan utama karena harga tiketnya sangat terjangkau. Namun, murahnya tarif harus dibayar dengan kondisi perjalanan yang jauh dari nyaman.
"Benar, sangat murah tiketnya. Tapi sangat menderita selama di perjalanan," kenangnya.
Ia menceritakan jumlah penumpang ketika itu kerap melebihi kapasitas tempat duduk. Lorong gerbong dipenuhi penumpang yang duduk lesehan, selonjoran di sela-sela kursi, bahkan ada yang harus berdiri selama perjalanan panjang menuju Jakarta.
Setiap kali kereta berhenti di stasiun, suasana semakin ramai karena pedagang asongan kembali masuk membawa berbagai jenis makanan, minuman, hingga camilan untuk ditawarkan kepada penumpang.
Perjalanan Lama karena Sering Mengalah
Selain kondisi gerbong yang padat, perjalanan KA Gaya Baru Malam juga terkenal memakan waktu cukup lama. Kereta ekonomi saat itu berhenti di banyak stasiun kecil dan kerap harus menunggu kereta kelas yang lebih tinggi melintas terlebih dahulu.
"KA Gaya Baru waktu itu singgah di banyak stasiun kecil. Kemudian mengalah agar kereta-kereta kelas di atasnya lewat, baru jalan lagi. Memang benar-benar parah kalau diingat masa mudaku dulu," ujar Wahyu.
Kini suasana tersebut telah menjadi bagian dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Modernisasi layanan membuat pedagang asongan tidak lagi diperbolehkan masuk ke dalam gerbong, sementara sistem tiket berbasis tempat duduk telah menghilangkan pemandangan penumpang berdesakan yang dahulu menjadi ciri khas perjalanan kereta ekonomi.
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Sukabumi