Ekspansi Rute Baru dan Layanan Pelayaran Terapkan Tren Positif, Arus Peti Kemas Nasional Tembus 6,63 Juta TEUs

Riri Masfardian • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 19:54 WIB
PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat arus peti kemas mencapai 6,63 juta TEUs pada Semester I 2026, atau tumbuh 5,51% dibanding tahun sebelumnya. (Foto : Ist/Radar Gresik)
PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat arus peti kemas mencapai 6,63 juta TEUs pada Semester I 2026, atau tumbuh 5,51% dibanding tahun sebelumnya. (Foto : Ist/Radar Gresik)

RADAR SURABAYA BISNIS – Arus peti kemas nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif pada Semester I 2026. PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat total throughput mencapai 6,63 juta TEUs atau tumbuh sebesar 5,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan ini didorong oleh ekspansi layanan pelayaran melalui pembukaan rute baru, penambahan kunjungan kapal (extra call), serta peningkatan aktivitas perdagangan nasional.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengungkapkan bahwa kenaikan terjadi baik pada sektor peti kemas domestik maupun internasional. Arus peti kemas luar negeri mencapai 2,27 juta TEUs (tumbuh 9,13 persen), sedangkan segmen domestik mencapai 4,36 juta TEUs (tumbuh 3,72 persen).

Baca Juga: Pasar Halal Global Bernilai Fantastis, Berikut Lima Sektor Unggulan Indonesia

Dari sisi perdagangan internasional, volume impor tercatat 1,11 juta TEUs (tumbuh 11,67 persen) dan ekspor 1,13 juta TEUs (tumbuh 6,70 persen). Capaian ini menegaskan resiliensi aktivitas perdagangan Indonesia di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global.

"Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas pelayaran, pembukaan layanan (service) baru, penambahan kunjungan kapal, direct call internasional di kawasan Indonesia Timur, hingga meningkatnya kebutuhan logistik untuk mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN)," ungkap Widyaswendra, Senin (27/7/2026).

Widyaswendra menambahkan, langkah modernisasi terminal, peningkatan konektivitas antarpelabuhan, serta penguatan kualitas layanan menjadi kunci utama dalam menjaga kelancaran rantai pasok sekaligus mendongkrak daya saing logistik nasional.

Baca Juga: Telkomsel dan Samsung Rilis Paket Bundling Halo Optima Galaxy, Ini Syarat dan Benefitnya

Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Harry Sutanto, menilai pertumbuhan arus peti kemas menjadi indikator krusial dalam mengukur denyut perekonomian nasional. Meski angka impor tumbuh lebih tinggi dibanding ekspor, dampak ke sektor manufaktur dinilai tetap positif.

"Sekitar 78 persen dari total impor merupakan bahan baku dan mesin yang dibutuhkan industri manufaktur. Artinya, prospek ekonomi dan produksi industri dalam negeri masih tumbuh," terang Harry saat dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Peningkatan arus lalu lintas kapal juga dirasakan di wilayah regional. Pelabuhan Panjang di Lampung, misalnya, mencatatkan lonjakan arus peti kemas yang cukup signifikan hingga 17,4 persen. Kendati demikian, Harry menyebut perusahaan pelayaran internasional masih bersikap cermat dan memperhitungkan kepastian muatan sebelum membuka rute baru secara berkelanjutan.

Baca Juga: Ekspor Farmasi Meningkat, Indonesia Kantongi Potensi Transaksi Rp34 Miliar di Taiwan

Di sisi lain, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto, menyambut baik sinyal positif pertumbuhan pada Semester I 2026 ini.

"Ini tentu sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi dan arus barang di pelabuhan tetap terjaga. Kami berharap tren ini dapat dipertahankan melalui penguatan ekosistem logistik nasional, mulai dari efisiensi pelabuhan, konektivitas antardaerah, hingga kelancaran operasional pelayaran," tutur Carmelita.

Pandangan akademis disampaikan Pakar Logistik Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Raja Oloan Saut Gurning. Menurutnya, peningkatkan throughput peti kemas adalah konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: ELPI Kantongi Rp739 Miliar dari Rights Issue, Fokus Tambah Armada dan Diversifikasi Bisnis

"Dalam industri maritim berlaku konsep ships follow the trade. Aktivitas kapal dan terminal peti kemas berkembang mengikuti pertumbuhan perdagangan, yang merupakan turunan langsung dari pertumbuhan ekonomi," jelas Saut Gurning, Rabu (22/7/2026).

Ia mengingatkan, besarnya multiplier effect dari pertumbuhan throughput sangat bergantung pada kualitas sistem logistik nasional, termasuk penyelesaian hambatan infrastruktur, integrasi antarmoda, hingga efisiensi proses Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ).

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyoroti pentingnya pembenahan infrastruktur fisik pelabuhan demi menjaga kelancaran rantai pasok. Beberapa tantangan teknis seperti pendangkalan alur pelayaran dan keterbatasan kapasitas pelabuhan harus segera ditangani lewat pengerukan berkala serta modernisasi alat bongkar muat.

Baca Juga: Gedor Pasar Wisata Domestik, Pemerintah Bidik Tren Open Trip

"Jika alur pelayaran mengalami pendangkalan, kapal terpaksa mengurangi muatan agar tetap aman berlayar. Hal ini membuat kapasitas angkut berkurang dan distribusi barang menjadi kurang efisien," papar Agus.

Ia juga mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan pelabuhan hub transhipment internasional di tanah air. Kehadiran pelabuhan transhipment yang mandiri dinilai akan memangkas ketergantungan pada negara tetangga, meningkatkan efisiensi biaya logistik, serta memastikan nilai tambah distribusi barang dinikmati sepenuhnya di dalam negeri. (rir/han) 

Editor : Hany Akasah
Sumber : radar surabaya bisnis
pelabuhan surabaya peti kemas pelindo