RADAR SURABAYA BISNIS — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat moda transportasi darat menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar di sektor transportasi Indonesia, yakni mencapai 87 persen.
Tingginya angka emisi tersebut mendorong pemerintah mempercepat langkah dekarbonisasi demi mencapai target Net Zero Emission (NZE).
Plt Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) Kemenhub, Reza Hertantyo, menyampaikan data tersebut dalam forum LINTAS (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas) yang digelar di Bekasi, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: Era Robotika Tiba, Lulusan SMK Kini Jadi Incaran Industri Manufaktur hingga Otomotif
Menurut laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca (IGRK) MPV 2024, sektor transportasi secara keseluruhan berkontribusi sebesar 8,18 persen terhadap total emisi nasional serta 22 persen terhadap sektor energi.
Dari total emisi transportasi tersebut, kontributor terbesar berasal dari kendaraan darat, khususnya sepeda motor pribadi, truk ringan, dan mobil pribadi. Siswa emisi lainnya disumbang oleh transportasi laut (8%), udara (4%), dan kereta api (1%).
Reza menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim dan kenaikan suhu udara kini makin nyata dirasakan masyarakat, mulai dari ketidakpastian cuaca hingga ancaman terhadap sektor pertanian dan kesehatan.
Baca Juga: Bediding di Surabaya Capai Puncak Juli-Agustus, Ini Bahaya yang Sering Tak Disadari
Oleh karena itu, Kemenhub tengah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Sektor Transportasi sebagai panduan strategis menuju sistem transportasi rendah karbon.
Beberapa langkah utama yang disiapkan meliputi pengembangan Transit Oriented Development (TOD) untuk mengintegrasikan tata ruang dengan moda publik, perluasan jaringan dan elektrifikasi jalur kereta api, dorongan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai, hingga peningkatkan efisiensi operasional fasilitas seperti stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandara.
Di sisi lain, keberhasilan transisi ini dinilai sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Content Creator Government Public Relations, Arif Ardiansyah Susilo, menilai kesadaran warga untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum merupakan kunci penting.
Baca Juga: Proyek Jalan Raya Wiyung Rp138 Miliar Dikebut, Kemacetan Ditarget Berkurang
Namun, ia juga menekankan bahwa perubahan perilaku tersebut harus diimbangi dengan pemerataan akses dan peningkatan kualitas layanan publik.
Editor : Hany AkasahSumber : radar surabaya bisnis