RADAR SURABAYA BISNIS – Transformasi perilaku masyarakat dalam berwisata kini mulai memberikan dampak positif terhadap performa bisnis sektor transportasi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melalui layanan premiumnya, Kereta Panoramic, mencatatkan lonjakan penumpang yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026.
Berdasarkan data KAI, sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kereta Panoramic telah melayani sebanyak 79.933 pelanggan. Angka ini melonjak 62,32 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 49.244 pelanggan.
Baca Juga: Dinamika Akhir Pekan, Harga Kedelai Impor dan Lokal di Jawa Timur Kompak Naik
Peningkatan tajam ini menunjukkan bahwa strategi bisnis KAI dalam membidik pasar transportasi premium dan pariwisata berjalan efektif.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa tren pertumbuhan ini sejalan dengan perubahan preferensi masyarakat yang tak lagi memandang kereta api sekadar sebagai alat transportasi, melainkan bagian dari pengalaman liburan itu sendiri.
"Perjalanan kini menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pelanggan ingin menikmati setiap momen selama perjalanan," ujar Anne.
Baca Juga: Grafik Harga Emas Antam Mulai Tunjukkan Sinyal Rebound, Simak Rincian Terbarunya
Fenomena ini selaras dengan tren pariwisata global. Laporan Travel Trends 2025: Purpose-Driven Journeys dari Mastercard Economics Institute menyebutkan bahwa wisatawan kini lebih mengutamakan pengalaman personal dan kualitas perjalanan di atas segalanya.
KAI Wisata merancang Kereta Panoramic secara khusus dengan modifikasi kelas eksekutif. Kapasitas duduk yang dibatasi hanya 38 kursi—dari sebelumnya 46 kursi—memberikan privasi dan ruang yang lebih luas bagi penumpang.
Humas PT Kereta Api Pariwisata, M. Ilud Siregar, menambahkan bahwa nilai jual utama dari kereta ini terletak pada kaca berdimensi besar dan automatic sunroof.
Baca Juga: Akhir Pekan Ceria, Saham Bank Besar dan Energi Kompak Menghijau Dongkrak IHSG ke Level 6.007
Fasilitas premium lainnya, seperti akses WiFi, sajian makanan ringan secara cuma-cuma, dan layanan dedicated train attendant, turut meningkatkan willingness to pay masyarakat.
Dengan harga tiket yang kompetitif di segmen premium—berkisar antara Rp 400.000 untuk rute Gambir-Bandung hingga Rp 1.200.000 untuk rute Bandung-Surabaya Gubeng—tingginya tingkat okupansi ini menegaskan bahwa terdapat pasar yang kuat untuk produk transportasi pariwisata bertaraf eksklusif di Indonesia.
Optimalisasi jalur selatan Jawa yang sarat dengan pemandangan alam perbukitan dan persawahan menjadi salah satu katalis utama penggerak minat pasar.
Editor : Hany Akasah