Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Pertamax Meroket Jadi Rp 16.250: Antrean Pertalite Mengular, Warga Kelas Menengah Mengaku Pasrah

Hany Akasah • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:55 WIB
AMAN: Antrian kendaraaan mengisi BBM di SPBU jalan Ahmad Yani Surabaya, BPH Migas Pastikan Stok BBM Nasional Masih Aman.
AMAN: Antrian kendaraaan mengisi BBM di SPBU jalan Ahmad Yani Surabaya.

RADAR SURABAYA BISNIS – Penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter yang resmi berlaku pada Rabu (10/6/2026) memicu beragam reaksi di tengah masyarakat. 

Kenaikan harga yang dinilai terlalu drastis ini membuat warga terkejut, pasrah, hingga terpaksa mengubah kebiasaan konsumsi bahan bakar mereka.

Pantauan di sejumlah daerah menunjukkan fenomena yang serupa: lajur pengisian Pertamax di area SPBU tampak lengang, berbanding terbalik dengan antrean panjang yang mengular di lajur Pertalite.

Baca Juga: Update Harga Sembako Terbaru, Cabai Rawit Masih Termahal, Bawang Merah Sentuh Rp56 Ribu

Di Kota Bandung, Jawa Barat, seorang warga bernama Diki (32) mengaku terpaksa turun kasta ke Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.

"Sebetulnya biasa pakai Pertamax, karena sayang juga ke motor. Tapi naiknya nggak manusiawi gini mah mau nggak mau beralih ke Pertalite," keluhnya saat ditemui di sebuah SPBU di kawasan Soekarno Hatta.

Kondisi senada disuarakan di Kediri, Jawa Timur. Azis Fanani, seorang warga yang rutin menempuh perjalanan antarkota dari Kediri menuju Tulungagung, merasa sangat terbebani dengan harga baru tersebut. Ia mengaku tidak setuju dan langsung beralih ke Pertalite.

Baca Juga: Saham Bank BUMN Tiba-Tiba Melejit, DPR dan Danantara Siapkan Buyback, BBTN Terbang 10%

Sementara itu, pekerja di lapangan seperti pengemudi ojek online (ojol) juga merasakan imbasnya secara langsung. Totok, seorang ojol di Kediri, harus mengorbankan performa kendaraannya. 

"Biasanya pakai Pertamax karena motor lebih enak. Tapi sekarang ya berat. Terpaksa pindah ke Pertalite dulu," ungkapnya.

Bagi masyarakat kelas menengah di wilayah penyangga ibukota, kenaikan BBM ibarat menambah beban pengeluaran yang sudah menumpuk. 

Baca Juga: Pertamina Resmi Sesuaikan Harga BBM Non-Subsidi Per 10 Juni 2026

Andrie Latif, warga Tangerang Selatan, memilih menunda mengisi Pertamax untuk mobil pribadinya setelah menyadari biaya isi penuh tangki (full tank) kini bertambah sekitar Rp 120.000.

"Jujur gue kecewa banget... Gue cuma bisa pasrah," keluh Andrie. Ia menyoroti bahwa sebelum BBM naik, harga komponen seperti oli, suku cadang, hingga ban sepeda motor sudah melambung imbas depresiasi rupiah. 

Sebagai solusi, ia berencana lebih sering menggunakan sepeda motor dengan mode irit bahan bakar dan mengurangi pemakaian mobil.

Baca Juga: Pemprov Jatim Raih WTP 11 Kali Berturut-turut, Senator Lia Istifhama: Bukti Transparansi Daerah yang Dongkrak Investasi

Di tengah gelombang keluhan, terselip pula ragam reaksi lain dari warga daerah. Di Trenggalek, Siti Aminah (65), seorang pembeli setia Pertamax, mengaku resah dan sangat berharap agar harga kebutuhan pokok lainnya tidak ikut meroket akibat efek domino BBM ini.

Namun, ada pula yang merespons kebijakan ini dengan senyuman dan optimisme, seperti Zaenal Arifin (49). Pria asal Desa Pandean ini memilih tetap memakai Pertamax tanpa banyak mengeluh. 

"Yang penting lancar mas. Demi dan untuk NKRI. Harapannya Indonesia semakin sejahtera," tuturnya.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran Sampai 2027, Prabowo Fokuskan Anggaran untuk Ekonomi Rakyat

Secara umum, elemen masyarakat berharap pemerintah tidak sekadar menuntut rakyat untuk terus beradaptasi dengan harga yang mahal. Mereka menanti kebijakan perlindungan daya beli agar pengorbanan yang dilakukan rakyat sepadan dengan pemulihan kondisi ekonomi.

Editor : Hany Akasah
#pertamax #pertalite #warga #bbm #bensin