Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ketegangan Geopolitik Batasi Pasokan Energi, Jepang Sulap Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan

Hany Akasah • Senin, 8 Juni 2026 | 15:01 WIB
GUNCANGAN GEOPOLITIK : Di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang menekan pasar energi, Jepang mempercepat transisi ke Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan memanfaatkan minyak jelantah domestik. (IST/JPNN)
GUNCANGAN GEOPOLITIK : Di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang menekan pasar energi, Jepang mempercepat transisi ke Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan memanfaatkan minyak jelantah domestik. (IST/JPNN)

RADAR SURABAYA BISNIS — Pemerintah dan sektor swasta di Jepang kini tengah bergerak agresif mengumpulkan minyak goreng bekas atau minyak jelantah dari rumah tangga dan pelaku usaha.

Langkah ini diambil guna mempercepat produksi bahan bakar pesawat berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF), seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi ramah lingkungan dan komitmen menekan emisi karbon di sektor penerbangan.

Di sebuah dapur di sudut kota Tokyo, kesibukan warga seperti Maki Watanabe menjadi potret nyata dari gerakan nasional tersebut.

Sembari menuangkan minyak bekas menggoreng terong ke dalam botol plastik, ibu rumah tangga yang gemar memasak ini mampu menyumbangkan sekitar 40 liter minyak jelantah setiap tahunnya ke supermarket terdekat.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Tertekan, Kusfiardi: Pasar Sedang Menguji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

Minyak yang disumbangkan Watanabe disalurkan melalui proyek kolaborasi pemerintah dan swasta bertajuk "Fry to Fly", yang kini telah diikuti oleh sekitar 300 peserta.

"Dibutuhkan jumlah yang sangat besar untuk menerbangkan sebuah pesawat, sehingga saya berharap kita bisa mengumpulkan lebih banyak lagi," ujar Watanabe seperti dikutip dari laporan Reuters/Kyodo News.

Program pengumpulan ini kian mendesak di tengah situasi geopolitik global, termasuk konflik Iran yang memicu krisis energi dan menekan pasokan komoditas dunia.

Bagi negara miskin sumber daya alam seperti Jepang, gejolak energi semacam ini menjadi ancaman serius yang memicu lonjakan biaya operasional domestik.

Sebagai ekonomi terbesar keempat di dunia, Jepang mematok target ambisius untuk menggunakan SAF sebesar 10% dari total konsumsi bahan bakar pesawat pada tahun 2030. Untuk mencapai target tersebut, Negeri Sakura diperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter SAF.

Pemerintah jepang sangat berharap sebagian besar kebutuhan itu dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku utama yang relatif murah.

Namun, tantangan di lapangan nyatanya jauh lebih rumit daripada cetak biru di atas kertas.

Saat ini, produksi SAF domestik Jepang baru mencapai 30.000 kiloliter atau hanya setara 0,3% dari total kebutuhan bahan bakar jet nasional. Minimnya infrastruktur pengolahan dan keterbatasan pasokan bahan baku menjadi dinding penghalang utama.

Dua maskapai terbesar Jepang, ANA Holdings dan Japan Airlines, bahkan secara terbuka mengakui beratnya misi ini dalam sebuah presentasi bersama.

"Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya," ungkap perwakilan kedua maskapai tersebut.

Baca Juga: Suarakan Kesetaraan Melalui Sinema, Ribuan Teman Disabilitas Nobar Film Semua Akan Baik Baik Saja

Masalah tingginya biaya produksi dan risiko kegagalan proyek komersial juga membayangi industri ini. Investigasi Reuters menunjukkan bahwa hanya sekitar seperlima dari proyek SAF yang diumumkan oleh berbagai maskapai di seluruh dunia yang benar-benar berhasil direalisasikan.

Jika target volume produksi lokal meleset, perusahaan penyulingan Jepang terpaksa harus mengimpor SAF atau bahan bakunya dengan harga yang jauh lebih mahal, serta menghadapi sanksi lingkungan yang berujung pada melambungnya harga tiket pesawat bagi konsumen.

Sebagai perbandingan, Singapura yang saat ini menerapkan mandat nasional penggunaan SAF sebesar 1% saja masih sangat bergantung pada impor bahan baku dari luar negeri.

Oleh sebab itu, periode tahun ini menjadi fase krusial bagi masa depan investasi energi hijau di Jepang.

Pemerintah telah meminta perusahaan energi untuk menetapkan keputusan investasi final paling lambat Maret mendatang agar produksi massal dapat berjalan tepat waktu pada 2030.

Baca Juga: Jawa Timur Bidik Posisi Pusat Industri Mebel dan Kerajinan Terbesar di ASEAN

Raksasa energi Eneos Holdings menyatakan bahwa kelanjutan proyek bersama Mitsubishi Corporation untuk memproduksi 400.000 kiloliter SAF pasca-tahun fiskal 2028 akan sangat bergantung pada volume minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan masyarakat.

Prosesnya sendiri tergolong kompleks dan mahal, melingkupi pengumpulan, hidrogenasi, hingga distilasi kimia.

Di sisi lain, perusahaan rekayasa industri JGC Holdings—yang mengoperasikan pabrik SAF skala komersial pertama di Jepang bersama Cosmo Energy dan REVO International—menilai kepastian permintaan pasar menjadi indikator utama sebelum mereka memperluas kapasitas produksi yang saat ini masih tertahan di angka 30.000 kiloliter per tahun.

Guna mengantisipasi tenggat waktu yang kian mencekik, Pemerintah Metropolitan Tokyo mencoba mengetuk pintu-pintu dapur warga di ibu kota untuk mengoordinasikan pengumpulan minyak dari sekitar 7,8 juta rumah tangga. Melalui pembagian 13.000 corong plastik yang dilengkapi kode QR petunjuk, pemerintah berupaya keras menggenjot angka pengumpulan yang pada tahun 2024 lalu hanya mentok di angka 160 kiloliter.

Berdasarkan formula dari perusahaan SAF Saffaire Sky Energy, volume 160 kiloliter tersebut nyatanya hanya cukup untuk menerbangkan satu pesawat Boeing 787 Dreamliner selama 17 jam saja.

"Jika kita tidak mulai sekarang, maka kita tidak akan mampu mencapai target pada tahun 2030," kata Yasushi Sato, seorang pejabat Pemerintah Tokyo, menegaskan urgensi gerakan ini.

Sektor swasta pun mulai bergerak masif. Perusahaan teknologi Fujifilm Holdings kini mengumpulkan minyak sisa dari kantin karyawan mereka, sementara raksasa ritel seperti Aeon, Ito-Yokado, dan 7-Eleven terus memperbanyak titik kotak pengumpulan di gerai-gerai mereka.

Kendati partisipasi publik terus meluas, para analis menganggap target Jepang tetap berada di batas yang sangat ketat.

Data dari asosiasi daur ulang UCO Japan menunjukkan bahwa andai seluruh minyak jelantah dari sektor rumah tangga di Jepang berhasil dikumpulkan tanpa sisa, volumenya hanya akan mencapai 550.000 kiloliter. Jumlah itu baru bisa menutup seperempat dari total kebutuhan SAF nasional pada 2030.

Mengingat hampir seluruh limbah minyak dari sektor bisnis dan industri di Jepang sudah terserap sepenuhnya, opsi mengimpor SAF dinilai tidak lagi bisa dihindari sebelum teknologi alternatif, seperti bahan bakar jet berbasis bioetanol, siap diaplikasikan secara komersial.

"Dengan kondisi seperti itu, target tersebut sangat ambisius," ujar Motoomi Suzuki, ekonom senior di Norinchukin Research Institute. Meski begitu, Suzuki menambahkan bahwa ketergantungan Jepang pada pasokan domestik membuat minyak goreng bekas tetap menjadi satu-satunya pilihan yang realistis dalam jangka pendek demi menjaga asa keberlanjutan industri penerbangan nasional. (nov/han)

Editor : Hany Akasah
#minyak jelantah #pesawat #geopolitik #energi hijau #jepang