RADAR SURABAYA BISNIS - Aktivitas logistik dan perdagangan nasional menunjukkan tren positif pada awal 2026.
Hal tersebut terlihat dari meningkatnya arus peti kemas di sejumlah pelabuhan utama Indonesia yang menjadi indikator penting pergerakan ekonomi nasional, mulai dari sektor produksi, perdagangan, investasi, hingga distribusi barang.
Berdasarkan data PT Pelabuhan Indonesia, total arus peti kemas hingga April 2026 mencapai 6,42 juta TEUs atau naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 5,99 juta TEUs.
Kenaikan tersebut mencerminkan aktivitas rantai pasok nasional yang masih bergerak stabil di tengah tantangan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik internasional.
Pelabuhan dinilai memiliki peran vital sebagai penghubung distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, hingga komoditas ekspor-impor.
Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia, Achmad Muchtasyar, mengatakan pertumbuhan arus peti kemas terutama ditopang oleh peningkatan aktivitas perdagangan internasional dan distribusi domestik.
“Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4 persen,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri Indonesia masih berjalan cukup kuat, sementara distribusi antarpulau juga tetap aktif dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
Baca Juga: WFH ASN Seminggu Sekali Sukses Hemat Uang Negara Triliunan Rupiah, Begini Evaluasi MenPAN-RB
Peningkatan ekspor dan impor terjadi di tengah situasi global yang masih dipengaruhi berbagai tekanan, termasuk konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Meski demikian, struktur perdagangan Indonesia yang banyak terkoneksi dengan kawasan Asia dinilai menjadi salah satu faktor penopang stabilitas perdagangan nasional.
Kawasan Tiongkok dan ASEAN sendiri tercatat menyumbang sekitar 46,2 persen total ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor nasional.
Hubungan dagang intra-Asia yang kuat membuat arus perdagangan Indonesia relatif tetap terjaga.
Sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas juga mengalami pertumbuhan positif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produk lemak dan minyak hewan atau nabati tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis naik 9,26 persen, mesin serta perlengkapan elektrik meningkat 4,9 persen, sementara produk kimia tumbuh 12,27 persen.
Di sisi impor, peningkatan terbesar tercatat pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, instrumen optik 20,8 persen, perlengkapan elektrik 17,91 persen, serta produk kimia mencapai 36,31 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan industri terhadap barang modal dan bahan pendukung manufaktur masih cukup tinggi.
Pertumbuhan arus peti kemas juga terjadi di sejumlah pelabuhan besar seperti Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, hingga Makassar.
Aktivitas bongkar muat yang meningkat menjadi indikator bahwa rantai distribusi logistik nasional tetap berjalan aktif.
Baca Juga: Kanada Permudah Akses Masuk WNI, Kini Bisa Gunakan eTA Pengganti Visa
Untuk distribusi domestik, peningkatan pengiriman barang menuju kawasan Indonesia timur turut menjadi sorotan.
Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan domestik sekitar 8 persen, sedangkan Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen berkat peningkatan layanan menuju Makassar, Kendari, dan Berau.
Sementara itu, Pelabuhan Makassar mencatat kenaikan sekitar 7 persen yang didorong oleh distribusi komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija di kawasan Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Pemerintah menilai pertumbuhan arus peti kemas menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga, aktivitas industri, serta konektivitas logistik nasional masih terjaga dengan baik.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Jumat 29 Mei 2026, Daging SerentakTurun
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas terminal peti kemas melalui pengembangan fasilitas pelabuhan dan modernisasi layanan operasional.
Selain itu, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan juga mempercepat pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan di berbagai daerah.
Sepanjang 2025 hingga 2026, tercatat sebanyak 74 lokasi pelabuhan telah mendapatkan pengembangan infrastruktur untuk memperkuat konektivitas logistik nasional dan mendukung pertumbuhan perdagangan domestik maupun internasional.
Editor : Hany Akasah