RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor bisnis pertanian di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menunjukkan tren positif yang signifikan.
Pada momentum panen raya jagung serentak kuartal II tahun 2026, nilai jual komoditas jagung di tingkat petani dilaporkan mengalami kenaikan hingga mencapai lebih dari Rp6.000 per kilogram.
Kenaikan harga ini menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi daerah dan kesejahteraan para petani lokal. Tasmuri, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Makmur, mengungkapkan bahwa saat ini harga jual jagung berada di angka Rp6.200 per kilogram.
Baca Juga: Presiden Prabowo Dorong Panen Raya Jagung Tuban Jadi Momentum Emas Hilirisasi Agribisnis
Angka ini naik tajam dibanding periode sebelumnya yang hanya berkisar antara Rp3.800 hingga Rp4.000 per kilogram.
"Kalau jual hasil tani, alhamdulillah sudah baik. Dulu harga jagung hanya Rp3.800-Rp4.000. Tapi sekarang sampai Rp6.000 lebih, tepatnya Rp6.200 per kilo. Berarti petani sangat gembira, karena biayanya banyak," ujar Tasmuri di sela-sela kegiatan Panen Raya Jagung bersama Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Tuban, Sabtu (16/5/2026).
Poktan Ngudi Makmur sendiri saat ini mengelola lahan produktif seluas 631,7 hektare yang digarap oleh sekitar 750 petani.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Sabtu 16 Mei 2026, Minyak Goreng Kompak Naik
Menurut Tasmuri, selain harga jual yang membaik, margin keuntungan petani juga terbantu oleh efisiensi biaya produksi, khususnya kemudahan akses dan penurunan harga pupuk bersubsidi yang digulirkan pemerintah baru-baru ini.
Meski demikian, untuk menjaga keberlanjutan bisnis pertanian ini, para petani masih menghadapi tantangan infrastruktur. Tasmuri berharap pemerintah memberikan dukungan berupa bantuan pengeboran air untuk irigasi, mengingat lahan pertanian di wilayahnya masih sangat bergantung pada curah hujan (tadah hujan) yang berisiko memicu gagal panen pada musim kemarau.
Optimisme serupa juga datang dari sektor industri kehutanan masyarakat. Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Lestari, Sudarlim, menyebutkan bahwa sekitar 90 persen petani hutan di kawasan Tuban mengandalkan jagung sebagai komoditas bisnis utama mereka.
Baca Juga: Harga Emas Antam Terkoreksi Tajam, Buyback Turut Melemah Signifikan Jelang Akhir Pekan
Agar komoditas jagung lokal mampu menembus pasar yang lebih luas dan memenuhi standar penyerapan Perum Bulog, Sudarlim menekankan pentingnya investasi pada teknologi pascapanen.
"Yang kita harapkan ada fasilitas untuk proses pengolahannya pascapanen (alat pengering), sehingga kita bisa mengakses Bulog dan mendapatkan harga maksimal," tutur Sudarlim.
Langkah penguatan ekosistem pangan ini sejalan dengan komitmen pemerintah. Selain menghadiri panen raya, agenda kepresidenan di Tuban tersebut juga menandai groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta peluncuran operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri 2026.
Baca Juga: Menteri UMKM Larang E-Commerce Naikkan Ongkir Seller, Janji Ambil Tindakan Tegas
Infrastruktur baru ini diproyeksikan akan memperkuat rantai pasok bisnis pangan nasional sekaligus mempercepat perwujudan swasembada pangan.
Editor : Hany Akasah