Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Asal Usul Jalan Gunungsari Trem Surabaya, Bekas Jalur Trem Uap Sejak 1890

Lambertus Hurek • Kamis, 7 Mei 2026 | 15:31 WIB
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan bahwa penamaan Jalan Gunungsari Trem berasal dari keberadaan jalur trem uap pada masa kolonial Belanda.
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan bahwa penamaan Jalan Gunungsari Trem berasal dari keberadaan jalur trem uap pada masa kolonial Belanda.

radarsurabayabisnis.id – Tidak banyak warga Surabaya yang mengetahui bahwa nama Jalan Gunungsari Trem di kawasan Sawunggaling, Wonokromo, menyimpan sejarah panjang transportasi lawas Kota Pahlawan. Jalan tersebut ternyata merupakan bekas jalur trem uap yang dahulu menghubungkan Stasiun Wonokromo Kota hingga Stasiun Karangpilang, bahkan tersambung sampai Krian.

Jejak sejarah itu masih bisa ditemukan hingga sekarang, mulai dari bekas rel yang tertanam di tanah hingga bangunan stasiun lama yang tetap berdiri di kawasan Karangpilang.

Baca Juga: Jejak Jalan Jagalan Surabaya Era 90-an, Ajang Berburu Hoki Lewat Judi SDSB

Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan bahwa penamaan Jalan Gunungsari Trem berasal dari keberadaan jalur trem uap pada masa kolonial Belanda.

“Dinamakan Jalan Gunungsari Trem karena jalan tersebut bekas lokasi jalur trem uap dari Wonokromo ke Karangpilang,” ujarnya, Kamis (7/5).

Jalur Trem Uap Surabaya Dibangun Sejak 1890

Jalur trem uap tersebut dibangun oleh perusahaan trem Belanda, Oost Java Stoomtram Maatschappij atau OJS, untuk melayani angkutan penumpang sekaligus distribusi barang.

Rute Wonokromo Kota–Karangpilang resmi dibuka pada 27 September 1890. Seiring meningkatnya kebutuhan transportasi dan perdagangan saat itu, jalur tersebut kemudian diperpanjang hingga Krian pada 14 Februari 1898.

Baca Juga: Grogol Surabaya Ternyata Bekas Benteng Rahasia, Jejak Kota Pertahanan Sejak Abad ke-13

Menurut Nanang, jalur trem dimulai dari kawasan Stasiun Wonokromo dan melintas di sekitar kantor pusat OJS di Joyoboyo. Dari sana, rel bergerak ke arah barat melewati kawasan Gunungsari hingga mendekati tepian sungai menuju Karangpilang.

“Semakin ke barat jalur trem semakin mendekati sungai atau berada di tepi sungai hingga ke Stasiun Karangpilang,” jelasnya.

Bekas Rel dan Stasiun Trem Masih Bisa Ditemukan

Meski operasional trem uap telah berhenti puluhan tahun lalu, sisa-sisa peninggalannya masih dapat dijumpai di beberapa titik Surabaya.

Bangunan bekas Stasiun Trem Karangpilang disebut masih berdiri di kawasan Jalan Mastrip, tepat di sisi utara Jembatan Tol Surabaya–Mojokerto Karangpilang. Selain itu, jejak rel lama juga masih terlihat di area Wonokromo, Gunungsari, hingga sekitar Karangpilang.

Sebagian rel bahkan kini tertutup aspal jalan dan timbunan tanah, sehingga keberadaannya jarang disadari warga.

“Operasional trem uap Wonokromo–Karangpilang berhenti total sekitar tahun 1978,” tambah Nanang.

Jalan Gunungsari Trem Jadi Pengingat Transportasi Lawas Surabaya

Keberadaan Jalan Gunungsari Trem menjadi pengingat bahwa Surabaya pernah memiliki jaringan transportasi trem yang cukup maju pada masanya. Jalur ini dulu berperan penting dalam mobilitas masyarakat dan distribusi hasil perdagangan di wilayah Surabaya hingga Sidoarjo.

Kini, nama jalan tersebut menjadi salah satu penanda sejarah kota yang masih bertahan di tengah pesatnya perkembangan urban Surabaya modern.

Editor : Hany Akasah
#trem surabaya #trem uap #jejak surabaya #Surabaya heritage