RADAR SURABAYA BISNIS – Raksasa produsen pesawat asal Eropa, Airbus, secara resmi menyatakan ketertarikannya untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara di Indonesia.
Langkah strategis ini diambil seiring dengan proyeksi lonjakan kebutuhan pesawat domestik yang diperkirakan mencapai 1.900 unit pada tahun 2045 mendatang.
Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati, mengungkapkan bahwa penjajakan ini merupakan tindak lanjut dari pertumbuhan trafik penumpang udara di Indonesia yang diprediksi tumbuh rata-rata 7,4% per tahun. Angka ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6%.
Baca Juga: Rosan Roeslani Ungkap Rencana Danantara, Rampingkan BUMN hingga 80 Persen
"Kebutuhan pesawat Indonesia diperkirakan naik tiga kali lipat dari sekitar 550 unit armada aktif saat ini menjadi sekitar 1.900 unit pada 2045. Karena kebutuhan domestik yang besar, Airbus juga ingin membangun ekosistem, termasuk peluang pabrik di Indonesia," ujar Vivi di Kantor Bappenas, Jakarta Pusat.
Meski peluang investasi terbuka lebar, Vivi menekankan bahwa pembangunan pabrik memerlukan persiapan matang, mulai dari investasi fisik, standardisasi, hingga kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Saat ini, fokus utama adalah pengembangan industri pendukung seperti perawatan dan pemeliharaan (MRO) serta peningkatan kapasitas industri komponen lokal.
Baca Juga: Pariwisata Indonesia Tumbuh Positif, Wisman Tembus 1,09 Juta Kunjungan pada Maret 2026
Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Airbus Asia-Pacific, Anand Stanley, menegaskan komitmen perusahaan untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok global.
Selama 50 tahun terakhir, Indonesia telah berkontribusi dalam memasok komponen untuk tipe pesawat unggulan seperti A320, A330, dan A350.
"Visi kami adalah menjadi warga negara Indonesia dalam 20 tahun ke depan, di mana kami memiliki proposisi penerbangan di seluruh ekosistem. Tidak hanya pesawat komersial, tapi juga helikopter militer dan pertahanan," jelas Stanley.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp 14 Triliun untuk Perbaikan 71.744 Ribu Sekolah pada Tahun Ini
Kerja sama strategis ini diharapkan dapat membawa Indonesia naik kelas, dari sekadar pembeli menjadi produsen yang terlibat aktif dalam rantai nilai global (global value chain) industri kedirgantaraan dunia dalam dua dekade mendatang.
Editor : Hany Akasah