RADAR SURABAYA BISNIS - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran kembali menutup jalur strategis Selat Hormuz, hanya beberapa jam setelah sebelumnya sempat dibuka.
Situasi ini menambah kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia, mengingat peran penting selat tersebut sebagai jalur distribusi utama minyak internasional.
Penutupan kembali jalur pelayaran vital tersebut dipicu oleh konflik yang masih berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat, khususnya terkait kebijakan blokade angkatan laut AS terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Ketegangan ini memperburuk situasi yang sebelumnya sempat mereda setelah adanya upaya gencatan senjata di kawasan.
Baca Juga: Harga Sembako Surabaya, Gresik, Sidoarjo Hari Ini, Minyak Goreng Kompak Naik
Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4) menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Pembukaan tersebut sempat memberikan harapan akan pulihnya arus distribusi energi global.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Pemerintah Iran kembali mengambil langkah penutupan setelah muncul sinyal dari Amerika Serikat yang berencana tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan tidak memperpanjang gencatan senjata apabila tidak tercapai kesepakatan damai dengan Teheran.
Baca Juga: Harga Emas Antam Stagnan di Akhir Pekan, Buyback Tetap Bertahan
Pernyataan tersebut dinilai semakin memperkeruh situasi dan memicu respons tegas dari Iran.
Sebelumnya, Teheran juga telah memberikan peringatan bahwa penutupan kembali Selat Hormuz akan dilakukan apabila tekanan dari pihak AS terus berlanjut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui oleh sebagian besar distribusi minyak dunia.
Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat berdampak langsung pada lonjakan harga energi global serta mengganggu stabilitas ekonomi berbagai negara.
Penutupan kembali selat ini pun diperkirakan akan meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Di tengah situasi yang belum menentu ini, pelaku pasar global dan negara-negara pengimpor energi kini mencermati perkembangan secara ketat, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap pasokan dan harga minyak dunia dalam waktu dekat. (iza/han)
Editor : Hany Akasah