Program ini merupakan kelanjutan dari penggunaan B40 yang telah diimplementasikan pada seluruh lokomotif KAI sejak Februari 2025.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa kesiapan teknis menjadi prioritas utama sebelum penerapan secara resmi dilakukan.
Baca Juga: Penerima Bansos PKH Bakal Jadi Karyawan Kopdes Merah Putih, Begini Skemanya!
Meskipun siap, KAI akan tetap menjalankan serangkaian uji coba teknis pada sarana lokomotif dan genset guna memastikan keamanan perjalanan pelanggan tetap terjaga.
"Kami sangat mendukung rencana transisi ke B50 yang digarap Kementerian ESDM. Pemanfaatan energi terbarukan yang makin maju membuat kereta api semakin unggul dalam menjaga kelestarian alam," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Penggunaan B50 diharapkan dapat menekan emisi karbon lebih signifikan dibandingkan bahan bakar fosil murni atau varian biodiesel sebelumnya.
Baca Juga: Ratusan Ribu Warga Surabaya Terancam Kehilangan Akses BPJS hingga Layanan Publik, Ini Penyebabnya
Tingginya minat masyarakat terhadap transportasi publik yang ramah lingkungan tercermin dari data volume penumpang. Selama Triwulan I 2026, KAI mencatat kenaikan penumpang sebesar 18,4% menjadi 14.515.350 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain angkutan penumpang, sektor logistik KAI juga telah sepenuhnya menggunakan Biosolar B40 untuk operasionalnya.
Dengan volume angkutan barang mencapai jutaan ton pada awal tahun ini, transisi ke B50 diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional.
Editor : Hany Akasah