Berdasarkan data yang dihimpun dari *Reuters*, harga avtur dunia telah melonjak tajam ke kisaran USD 150 hingga USD 200 per barel. Kondisi ini membuat komponen biaya bahan bakar kini menyedot hampir seperempat dari total biaya operasional maskapai.
Baca Juga: PLN Akselerasi Transisi Energi, 21 Proyek PLTS Siap Eksekusi Demi Pangkas Impor BBM
Imbas Konflik Terhadap Biaya Operasional
Kenaikan harga ini merupakan dampak domino dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang bermula sejak Februari lalu. Ketidakpastian jalur udara di wilayah Timur Tengah juga memaksa maskapai mencari rute alternatif yang lebih jauh dan memakan biaya lebih besar.
Beberapa maskapai besar telah mengumumkan penyesuaian tarif mereka:
- AirAsia X: Memotong 10 persen frekuensi penerbangan dan menaikkan tarif hingga 20 persen di sebagian besar rute.
- Air France-KLM: Menambah biaya tiket jarak jauh hingga 50 euro (sekitar Rp1 juta) untuk perjalanan pulang-pergi.
- Cathay Pacific: Memberlakukan kenaikan biaya bahan bakar sebesar 34 persen mulai 1 April 2026.
- Delta Air Lines & American Airlines: Kompak menaikkan biaya bagasi dan mulai memangkas kapasitas penerbangan untuk menjaga margin keuntungan.
Selain maskapai di atas, pemain besar lain seperti Air India, Aegean Airlines, dan China Eastern juga mulai menerapkan kebijakan serupa demi menjaga kelangsungan industri di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Stok Menipis, Dirut Bulog Minta Pemerintah Tambah Jatah Distribusi Minyakita
Para analis memprediksi jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda, tren kenaikan harga tiket pesawat ini akan terus berlanjut hingga musim liburan mendatang. Penumpang diimbau untuk melakukan pemesanan tiket lebih awal guna menghindari lonjakan harga yang lebih tinggi.
Editor : Hany Akasah