RADAR SURABAYA BISNIS - PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus memperkuat kesiapan operasional dengan menggelar simulasi Business Continuity Management System (BCMS) pada Kamis (2/4) di area terminal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan layanan serta memastikan keberlangsungan operasional, terutama dalam menghadapi potensi gangguan pada Sistem Operasi Terminal (SOT).
Simulasi BCMS dilakukan dengan menghadirkan skenario gangguan sistem yang berdampak langsung pada layanan receiving dan discharge petikemas.
Baca Juga: Pemerintah Gabungkan 15 BUMN Logistik Jadi Satu Entitas, Target Selesai dalam Sebulan ke Depan
Melalui skenario tersebut, TPS menguji secara menyeluruh efektivitas tata kelola dalam menangani kondisi disruptif, mulai dari proses identifikasi dan penilaian dampak, mekanisme pengambilan keputusan di tingkat manajerial, aktivasi Business Continuity Plan (BCP), hingga implementasi prosedur operasional manual sesuai standar yang telah ditetapkan.
Pelaksanaan drill ini melibatkan berbagai fungsi secara terintegrasi, termasuk tim operasional lapangan, unit teknologi informasi, serta bagian koordinasi internal.
Dalam simulasi tersebut, layanan penerimaan dan pembongkaran petikemas tetap dijalankan dengan mengacu pada prosedur manual, didukung oleh pemanfaatan data cadangan, pengaturan lokasi penumpukan alternatif, serta pencatatan transaksi secara manual.
Seluruh data yang dihimpun selama kondisi gangguan nantinya akan dipulihkan kembali ke dalam sistem setelah operasional dinyatakan kembali normal.
Baca Juga: El Nino Datang, Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan
Senior Vice President Operasi TPS, Didik Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan manajemen risiko sekaligus implementasi prinsip keberlanjutan bisnis di lingkungan TPS.
Ia menekankan pentingnya keselarasan pemahaman di antara seluruh personel terkait peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi potensi gangguan operasional.
Menurutnya, dengan kesiapan yang terbangun melalui simulasi ini, operasional terminal diharapkan tetap dapat berjalan secara aman, tertib, dan terkendali, bahkan ketika menghadapi kondisi tidak normal.
Hal ini menjadi krusial mengingat operasional terminal memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran arus logistik.
Lebih lanjut, Didik menjelaskan bahwa implementasi BCMS tidak hanya berorientasi pada pemulihan sistem semata, tetapi juga mencakup keberlangsungan proses bisnis secara menyeluruh serta efektivitas koordinasi lintas fungsi dan pemangku kepentingan.
Dalam simulasi tersebut, TPS juga menguji mekanisme koordinasi dengan pihak eksternal, seperti otoritas pelabuhan, bea dan cukai, pengguna jasa, hingga perusahaan pelayaran.
Ia menambahkan bahwa kesiapan prosedur manual, kecepatan pemulihan data, serta soliditas koordinasi menjadi faktor penting dalam meminimalkan dampak gangguan terhadap operasional.
Baca Juga: Bangkit dari Tekanan, Rupiah Menguat Tipis di Pembukaan Perdagangan Hari Ini
Melalui kegiatan ini, TPS sekaligus melakukan evaluasi terhadap sistem dan prosedur yang ada guna memastikan adanya penyempurnaan secara berkelanjutan.
Setelah seluruh rangkaian simulasi selesai, TPS melakukan evaluasi komprehensif untuk memastikan pencapaian target Recovery Time Objective (RTO) serta kesesuaian implementasi BCMS dengan kebijakan dan standar keberlanjutan bisnis perusahaan.
Melalui pelaksanaan simulasi BCMS secara berkala, TPS menegaskan komitmennya dalam menjaga keandalan operasional terminal serta mendukung kelancaran distribusi logistik nasional.
Langkah ini juga sejalan dengan transformasi layanan dan peningkatan standar operasional yang terus dikembangkan di lingkungan Pelindo Group.
Editor : Hany Akasah