RADAR SURABAYA BISNIS – Sektor agribisnis di Jawa Timur kini tengah berada dalam posisi siaga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda baru saja merilis prakiraan cuaca yang menunjukkan bahwa wilayah Jawa Timur akan memasuki masa peralihan (pancaroba) pada April 2026, disusul musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan durasi yang lebih panjang mulai Mei mendatang.
Kondisi ini bukan sekadar urusan cuaca, melainkan alarm bagi stabilitas ekonomi daerah. Mengingat Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan nasional, durasi kemarau yang lebih lama berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dan memicu fluktuasi harga komoditas di pasar.
Baca Juga: Krisis Sulfur Global, Hilirisasi Nikel Indonesia Terancam Akibat Konflik Timur Tengah
Strategi Mitigasi dan Pivot Komoditas
BMKG Juanda menghimbau para pelaku usaha tani untuk segera melakukan langkah preventif guna menghindari kerugian finansial akibat gagal panen.
Salah satu rekomendasi utamanya adalah peralihan varietas tanaman. Petani disarankan untuk beralih dari padi umur panjang ke varietas yang lebih tahan kekeringan (umur pendek) atau melakukan pivot ke tanaman palawija.
"Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, mencakup 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Efisiensi penggunaan air dan manajemen pola tanam menjadi kunci agar nilai ekonomi lahan tetap terjaga," tulis BMKG dalam rilis resminya.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso Pastikan Impor Bawang Putih Aman di Tengah Lonjakan Biaya Logistik Global
Investasi Manajemen Sumber Daya Air
Dari sisi infrastruktur bisnis pertanian, optimalisasi sistem irigasi dan pengisian waduk di akhir musim penghujan menjadi krusial.
Selain risiko pada sektor pangan, pelaku industri juga diingatkan untuk mewaspadai potensi kelangkaan air bersih dan meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang dapat mengganggu distribusi logistik dan aktivitas operasional bisnis di beberapa titik rawan.
Pemerintah daerah dan stakeholder terkait diharapkan dapat berkolaborasi dalam menjaga ketersediaan air guna memastikan roda ekonomi di sektor primer ini tetap berputar meskipun di tengah tantangan iklim yang ekstrem.
Editor : Hany Akasah