radarsurabayabisnis.id - Jembatan Petekan Surabaya kembali menjadi sorotan. Peninggalan bersejarah dari masa kolonial ini ternyata merupakan satu-satunya jembatan angkat yang masih tersisa di Kota Pahlawan. Dahulu, jembatan ini memiliki peran penting sebagai jalur masuk kapal melalui Sungai Kalimas, namun kini kondisinya justru memprihatinkan.
Di masa kolonial, Surabaya memiliki beberapa jembatan angkat yang berfungsi sebagai penghubung jalan sekaligus pintu masuk kota melalui jalur air. Namun seiring waktu, hampir seluruh jembatan tersebut hilang, menyisakan Jembatan Petekan sebagai saksi sejarah yang masih berdiri hingga sekarang.
Baca Juga: Aturan Baru Coretax, Simak 4 Golongan Wajib Pajak yang Bebas Lapor SPT Tahunan
Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menjelaskan bahwa pada masa kolonial jembatan ini dikenal dengan sebutan Ophaalbrug, yang berarti jembatan angkat. Sistemnya memungkinkan bagian jembatan terangkat sehingga kapal-kapal dapat melintas di Sungai Kalimas.
Masyarakat Surabaya kemudian mengenalnya dengan nama Jembatan Petekan. Nama tersebut berasal dari cara kerja jembatan yang akan terangkat ketika tombol penggeraknya ditekan atau “dipetek”.
“Di zaman kolonial, jembatan ini disebut Ophaalbrug atau jembatan angkat. Orang Surabaya menyebutnya Jembatan Petekan karena jembatan ini akan terangkat bila dipetek agar perahu-perahu bisa melintas di Sungai Kalimas,” ujar Nanang, Minggu (15/3).
Baca Juga: Survei Ungkap 45 Persen Publik Indonesia Punya Pekerjaan Sampingan, Faktor Ekonomi Jadi Alasan Utama
Pada masa itu, jembatan angkat tidak hanya berada di kawasan Petekan. Beberapa titik lain di Surabaya juga memiliki fungsi serupa. Salah satunya adalah Roodebrug atau Jembatan Merah yang pada era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels juga merupakan jembatan angkat berbahan kayu bercat merah.
Selain itu, di kawasan Bibis yang dahulu menjadi pintu gerbang kota di sisi selatan juga terdapat jembatan angkat yang melintasi sungai. Semua jembatan tersebut memiliki fungsi yang sama, yakni sebagai penghubung jalan sekaligus jalur masuk ke Kota Surabaya melalui sungai.
Namun dari sejumlah jembatan angkat yang pernah ada di Surabaya, kini hanya Jembatan Petekan yang masih tersisa. Sayangnya, kondisi bangunan bersejarah ini sudah sangat memprihatinkan.
Nanang menggambarkan kondisi jembatan tersebut seperti “hidup segan, mati pun tak mau” karena kerusakannya cukup parah dan tidak lagi berfungsi sebagaimana dulu.
“Dari jembatan angkat yang ada, kini hanya ada satu yang tersisa dengan kondisi yang sudah sangat rusak. Itulah Jembatan Petekan,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat melakukan rekonstruksi terhadap peninggalan sejarah tersebut jika memang ingin menjadikannya sebagai monumen kota.
Menurutnya, rekonstruksi sangat penting agar Jembatan Petekan tidak hanya menjadi bangunan tua, tetapi juga dapat menjadi sumber edukasi sejarah bagi generasi muda di masa depan.
“Bila memang mau dibuat sebuah monumen, seharusnya peninggalan kota ini direkonstruksi agar menjadi sumber informasi edukatif bagi generasi penerus dan anak cucu,” pungkasnya.
Editor : Hany Akasah