radarsurabayabisnis.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi memulai Proyek Double Track dan Railway Gubeng–Sidoarjo Senilai Rp 3,8 Triliun Dimulai sebagai bagian dari pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL).
Tahap awal proyek ini dimulai dengan penyusunan desain detail (Detailed Engineering Design/DED) untuk fase 1A dari Stasiun Gubeng hingga Sidoarjo.
Tahap Awal Fokus Jalur Gubeng–Sidoarjo
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan bahwa pengerjaan tahap pertama proyek perkeretaapian ini sangat kompleks.
Selain pemasangan jalur ganda (double track), proyek juga mencakup sistem elektrifikasi tanpa mengganggu operasional kereta yang sudah berjalan.
“Memasang sistem perkeretaapian listrik dan double track bukan sekadar pasang rel, tetapi harus menghitung kurva, getaran, hingga detail teknis yang kompleks,” ujar Emil.
Didanai Jerman, Nilai Proyek Capai Rp 3,8 Triliun
Proyek ini didanai oleh KfW Development Bank Jerman dengan nilai kontrak sekitar 230 juta euro atau setara Rp 3,8 triliun. Kontrak pendanaan telah ditandatangani, dan konsultan perancang siap bekerja.
Konsultan dari Jepang, Chodai, bersama mitra lokal Dardela Yasa telah mulai mengerjakan penyusunan DED. Proses perancangan diperkirakan memakan waktu lebih dari satu tahun sebelum masuk tahap konstruksi.
Tantangan Utama: Bangun Tanpa Ganggu Operasional
Menurut Emil, tantangan terbesar dalam Proyek Double Track dan Railway Gubeng–Sidoarjo adalah pembangunan infrastruktur di tengah jalur aktif.
Baca Juga: Viral, Siswa Teriak gembira Didalam Ompreng MBG Bangkalan Ada Uang Rp 50 Ribu, Ini Sosok Donaturnya
Sistem kelistrikan akan dipasang di atas rel yang masih digunakan, sehingga perencanaan teknis harus dilakukan secara detail dan presisi.
“Elektrifikasi bukan pekerjaan sederhana. Ini membutuhkan perhitungan teknik yang matang,” jelasnya.
Proyek Paralel Gubeng–Pasar Turi hingga Gresik
Selain jalur Gubeng–Sidoarjo, pemerintah juga menyiapkan jalur paralel Gubeng–Pasar Turi. Tahap berikutnya akan dilanjutkan menuju Stasiun Kandangan (Surabaya) hingga Stasiun Indro (Gresik).
Untuk segmen Gubeng–Wonokromo–Sidoarjo, Emil menyebut hampir tidak ada pembebasan lahan besar. Penanganan lebih banyak berupa penertiban area sekitar rel.
Sementara untuk jalur Gubeng–Pasar Turi, penertiban dilakukan secara humanis karena terdapat permukiman warga di sekitar jalur.
“Kami ingin menyelaraskan kepentingan masyarakat dan kebutuhan transportasi publik,” tegas Emil.
Target Konstruksi Lebih Cepat hingga 40 Persen
Emil optimistis jika penertiban area jalur berjalan lancar dan tantangan teknis dapat diatasi, waktu persiapan konstruksi bisa dipangkas hingga 20–40 persen.
Saat ini, skenario konservatif menargetkan seluruh desain siap konstruksi dalam waktu sekitar 1,5 tahun.
Pemerintah Siapkan BED dan DED Secara Paralel
Sementara itu, Plt Direktur Perkeretaapian, Catur Wicaksono, mengatakan fokus saat ini adalah penyusunan Basic Engineering Design (BED) dan DED.
Jika proses penyusunan dokumen berjalan lebih cepat, maka pembangunan fisik juga bisa dimulai lebih awal.
“Kami juga menyiapkan lelang manajemen konstruksi dan tender secara paralel,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah daerah dalam penanganan utilitas, perlintasan, dan penertiban area jalur untuk mempercepat pembangunan.
Proyek Transportasi Strategis Jawa Timur
Dengan masuknya tahap desain detail dan dukungan pendanaan internasional, Proyek Double Track dan Railway Gubeng–Sidoarjo Senilai Rp 3,8 Triliun Dimulai menjadi salah satu proyek transportasi paling strategis di Jawa Timur.
Proyek ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkutan penumpang, mengurangi kemacetan, serta memperkuat konektivitas Surabaya, Sidoarjo, dan wilayah sekitarnya.
Editor : Hany Akasah