Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Cuaca Ekstrem Picu 3.000 Hektare Sawah di Jatim Gagal Panen, Pemprov Pastikan Stok Pangan Aman

Hany Akasah • Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:26 WIB

 

SAWAH: Kondisi lahan persawahan tanaman padi yang gagal akibat cuaca ekstrem
SAWAH: Kondisi lahan persawahan tanaman padi yang gagal akibat cuaca ekstrem

RADAR SURABAYA BISNIS – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim) menyebabkan sedikitnya 3.000 hektare lahan pertanian mengalami gagal panen atau puso.

Meskipun demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan kondisi tersebut tidak mengganggu stabilitas hasil produksi padi secara keseluruhan.

Berdasarkan data hingga Oktober 2025, wilayah yang paling terdampak fenomena puso ini terkonsentrasi di Kabupaten Pasuruan dan Bojonegoro.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menjelaskan bahwa meskipun angka lahan yang terdampak cukup luas, fenomena ini terjadi saat tanaman padi mayoritas telah melewati masa panen utama.

"Puso kemarin itu 3.000 hektare tapi tersebar di Jawa Timur. Fenomena ini terjadi saat tanaman sudah melewati masa panen, sehingga tidak mengganggu total produksi pada 2025," ujar Heru, Selasa (13/1/2026).

Selain gagal panen akibat cuaca ekstrem, Heru juga menyinggung dampak banjir yang sempat menggenangi persawahan. Menurutnya, dampak banjir kali ini relatif minim karena air cenderung cepat surut sehingga tidak merusak tanaman secara signifikan.

Menanggapi situasi ini, Dinas Pertanian Jatim telah menyalurkan bantuan kepada para petani yang terdampak. 

Pergantian benih dan fasilitas tanam ulang akan diberikan pemerintah agar mencegah penurunan produktivitas panen di musim tanam berikutnya. 

"Kami terus melakukan pendataan. Jika ditemukan kasus puso baru imbas cuaca ekstrem, pemerintah melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) akan memberikan bantuan benih agar petani bisa segera tanam kembali," tegas Heru.

Pemerintah juga kini meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan dari BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan berlangsung hingga awal Februari 2026. 

Hal ini menjadi krusial karena berdekatan dengan masa panen raya yang diprakirakan jatuh pada Maret 2026.

Meski dibayangi tantangan iklim, Pemprov Jatim justru optimis bahwa produksi padi pada tahun 2026 akan mengalami peningkatan. 

Optimisme ini didasari oleh tren positif luas tanam pada periode akhir tahun sebelumnya.

"Kalau kita melihat luas tanam periode Oktober hingga Desember 2025, angkanya lebih besar dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Maka, kami memprediksi produksi tahun 2026 nanti kira-kira akan meningkat," pungkas Heru.

Editor : Hany Akasah
#pangan #gagal panen #puso #cuaca ekstrem #sawah #banjir