RADAR SURABAYA BISNIS - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) tercatat mengoperasikan total 90 unit pesawat usai mendapatkan suntikan dana dari Danantara sebesar Rp 23,7 triliun.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menjelaskan, suntikan modal yang tersebut menjadi titik balik bagi perseroan untuk menstabilkan operasional dan memperbaiki struktur keuangan.
Di samping itu, alokasi dana tersebut juga difokuskan pada sektor yang secara langsung mendorong reliabilitas layanan dan pemulihan kapasitas produksi.
Dana sekitar Rp 11,2 triliun digunakan untuk penyehatan dan pemeliharaan armada PT Citilink Indonesia.
Adapun, Rp 8,7 triliun dialokasikan untuk pemeliharaan pesawat Garuda Indonesia.
Upaya perbaikan tersebut meningkatkan jumlah pesawat yang dapat beroperasi menjadi 90 unit.
Tercatat Garuda mengoperasikan 58 pesawat dan Citilink 32 pesawat per November.
“Dengan dukungan dari pemerintah dan pemegang saham, transformasi Garuda ini memiliki ruang bertumbuh yang memadai, baik untuk menjaga keberlanjutan operasional maupun ruang pertumbuhan yang lebih baik,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Senin (1/12).
Dia menambahkan suntikan modal yang terdiri atas shareholder loan (SHL) sebesar USD 405 juta dan penyertaan modal tunai USD 1 miliar dialokasikan untuk kebutuhan kritikal yang berdampak langsung pada operasional GIAA.
Sebagian injeksi modal digunakan untuk memenuhi kewajiban utang Citilink kepada Pertamina dengan nilai USD 225 juta.
Aksi korporasi tersebut, lanjutnya, juga memperkuat struktur permodalan dan free float saham yang di publik tetap terjaga di 8 persen, sejumlah saham beredar meningkat menjadi 407 miliar saham, dan modal dasar diperkuat menjadi Rp 100 triliun.
Sebelumnya, Direktur Teknik Garuda Indonesia, Mukhtaris menyampaikan, fokus operasional utama emiten maskapai pelat merah ini adalah menyelesaikan perawatan armada yang dimiliki.
“Fokus operasional kami diarahkan untuk menyelesaikan perawatan pesawat, karena pesawat-pesawat ini harus segera kami kembalikan ke status serviceable dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Sementara itu, PT Danantara Asset Management (Persero), menargetkan seluruh pesawat milik Garuda Indonesia dapat mengudara pada 2026.
Managing Director Danantara Asset Management, Febriany Eddy, menyatakan, langkah tersebut menjadi prioritas utama karena efektivitas operasional maskapai sangat bergantung pada jumlah armada yang aktif.
“Prioritas pertama itu return to service (RTS). Target kami adalah tahun depan semua yang hari ini grounded aircraft itu semua bisa terbang. Tentunya secara gradual,” ujarnya di Wisma Danantara, beberapa waktu lalu. (nis/opi)
Editor : Nofilawati Anisa