Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ekspor Jawa Timur Lewat Bandara Internasional Juanda Surabaya di Tahun 2024 Melonjak hingga 36 Persen Lebih

Mus Purmadani • Jumat, 5 September 2025 | 14:20 WIB
ANTRE: Sejumlah pesawat antre di Bandara Internasional Juanda untuk menunggu giliran take off.
ANTRE: Sejumlah pesawat antre di Bandara Internasional Juanda untuk menunggu giliran take off.

RADAR SURABAYA BISNIS - Perang dan ketegangan geopolitik yang terjadi selama tahun 2024 di Kawasan Timur Tengah sangat mempengaruhi perekonomian global.

Perekonomian global hanya mampu tumbuh 3,3 persen, bahkan cenderung stagnan akibat konflik tersebut.

Ekonomi global yang mengalami pelemahan pada tahun 2024 tersebut membawa dampak pada pelemahan ekonomi dalam negeri.

Ekonomi Indonesia tahun 2024 hanya mampu tumbuh 5,05 persen. Capaian itu lebih rendah dibandingkan kondisi perekonomian di tahun 2023 yang tumbuh sebesar 5,31 persen.

Pelemahan ekonomi Indonesia tahun 2024 ini disebabkan oleh kinerja perdagangan internasional yang mengalami pelemahan.

Kinerja perdagangan internasional tercermin dari aktivitas ekspor impor yang dilakukan dengan negara mitra dagang di luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat di lingkup regional Jawa Timur, kinerja ekspor tahun 2024 masih menunjukkan pertumbuhan yang positif dibandingkan tahun 2023.

Secara nominal, ekspor Jawa Timur tahun 2024 mencapai USD 26,07 miliar.

Angka tersebut lebih tinggi 21,62 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai USD 21,43 miliar.

"Peningkatan kinerja ekspor Jawa Timur tahun 2024 didorong oleh meningkatnya ekspor komoditas nonmigas sebesar 22,11 persen, dari USD 20,63 miliar menjadi USD 25,19 miliar," ujar Kepala BPS Jatim Zulkipli, Jumat (5/9/2025).

Sementara itu, ekspor komoditas migas pada periode yang sama tumbuh 8,96 persen.

Dari USD 0,81 miliar pada tahun 2023 menjadi USD 0,88 miliar pada tahun 2024.

Kinerja ekspor yang masih tumbuh tinggi di tengah ketegangan geopolitik di Kawasan Timur Tengah ini menjadi prestasi tersendiri, terutama bagi Jawa Timur.

"Selain itu di tengah iklim global yang tidak menentu ini, Jawa Timur mampu bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang telah dinyatakan selesai oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2023. Tentu saja prestasi ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, seluruh masyarakat dan pelaku usaha yang tetap optimis dalam menghadapi tekanan ekonomi global," terangnya.

Zulkipli menyebut perdagangan luar negeri Provinsi Jawa Timur selama dua dekade menunjukkan tren yang fluktuatif.

Kinerja ekspor impor mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2019-2020.

Walaupun sempat mengalami peningkatan pada tahun 2021-2022, kinerja ekspor Jawa Timur kembali mengalami penurunan akibat menurunnya permintaan imbas dari pelemahan ekonomi global.

Ekspor Jawa Timur kembali menguat di tahun 2024. Sementara itu, kinerja impor terus mengalami peningkatan mulai tahun 2021 sampai 2024.

"Penurunan kinerja ekspor tahun 2023 dipicu oleh normalisasi harga komoditas ekspor yang terjadi di sepanjang periode tersebut, setelah sebelumnya pada tahun 2021 dan tahun 2022, sejumlah harga komoditas meroket tidak wajar dampak krisis Rusia-Ukraina yang mengganggu rantai pasok global. Akibatnya, terjadi anomali lonjakan harga," jelasnya.

Menurutnya ekspor Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan pada tahun 2024 di tengah konflik geopolitik Iran-Israel yang terjadi di sepanjang tahun 2024.

Hal ini membuktikan bahwa ekspor Jawa Timur ke mitra dagang utama (Jepang, Tiongkok dan Amerika Serikat) tidak terganggu oleh adanya ketegangan di negara Timur Tengah.

Pada tahun 2024 terdapat tujuh pelabuhan di Provinsi Jawa Timur yang berstatus sebagai pelabuhan ekspor, karena aktif melakukan kegiatan bongkar muat untuk barang perdagangan luar negeri.

"Berdasarkan pelabuhan muat, nilai ekspor terbesar Provinsi Jawa Timur dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak dan Bandara Juanda. Kedua pelabuhan tersebut berperan sebesar 91,99 persen dari total ekspor Provinsi Jawa Timur tahun 2024. Pelabuhan muat dengan peran terkecil adalah Pelabuhan Banyuwangi dengan peranan sebesar 0,004 persen," katanya.

Pengiriman barang ekspor Provinsi Jawa Timur melalui Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 2024 mengalami peningkatan sebesar 21,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Yaitu dari USD 17,13 miliar pada tahun 2023 menjadi USD 20,84 miliar pada tahun 2024.

Sedangkan ekspor melalui Bandara Juanda pada tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 3,13 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 36,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kenaikan di Bandara Juanda ini disumbang oleh kenaikan ekspor kelompok komoditas perhiasan atau permata. Sementara itu pengiriman barang ekspor melalui Pelabuhan Gresik, Probolinggo dan Banyuwangi mengalami penurunan masing- masing sebesar 4,26 persen; 64,98 persen; dan 99,09 persen," pungkasnya. (mus/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#ketegangan #jawa timur #perhiasan #mitra dagang #radar surabaya bisnis #Kawasan Timur Tengah #perang dagang #geopolitik #ekspor #ekonomi global #bandara internasional juanda #perekonomian #pelemahan ekonomi #pelabuhan tanjung perak #permata