RADAR SURABAYA BISNIS - Pelabuhan Tanjung Perak selama ini dikenal sebagai pintu gerbang utama rantai pasok, baik untuk jalur domestik maupun perdagangan internasional.
Berbagai kebutuhan layanan mulai dari general cargo, curah kering, curah cair, inbag, hingga peti kemas telah dilayani di pelabuhan strategis ini.
Salah satu potensi besar yang kini tengah dikembangkan adalah layanan curah cair produk chemical atau bahan kimia, khususnya di Terminal Nilam.
Terminal ini telah sesuai dengan zonasi Rencana Induk Pelabuhan (RIP) yang ditetapkan pemerintah bersama Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
Potensi tersebut ditangkap oleh PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) selaku subholding Pelindo yang mengelola terminal nonpetikemas, dengan melakukan sejumlah persiapan di Terminal Nilam Timur maupun Utara, Pelabuhan Tanjung Perak.
“Tren ke depan kami perkirakan lebih banyak menyasar produk chemical. Alasannya sederhana: kebutuhan penyimpanan produk chemical, baik pasar domestik maupun ekspor, masih terbuka lebar,” ujar Muh Junaedhy, Branch Manager Terminal Jamrud, Nilam, dan Mirah – cabang di bawah pengelolaan Pelindo Multi Terminal, Jumat (29/8/2025).
Ia menjelaskan, menjelaskan Terminal Nilam telah melakukan business mapping, antara lain melalui komunikasi dengan pengguna jasa, identifikasi potensi pasar, ketersediaan ruang, hingga rencana investasi.
“Sebetulnya market sudah ada untuk layanan chemical. Saat ini proses penyusunan MoU dengan calon mitra tengah berjalan, sambil terus berkomunikasi dengan pengguna jasa,” tambahnya.
Terminal Nilam saat ini dilengkapi enam tank storage atau tangki timbun dengan kapasitas masing-masing 5.600 sebanyak tiga unit dan 3.600 ton sebanyak tiga unit.
Kapasitas tersebut masih memungkinkan pengembangan lebih lanjut untuk mendukung layanan chemical.
Hingga Juli 2025, produktivitas kinerja curah cair di Terminal Nilam sebesar 3.910 Ton/Ship/Day (T/S/D).
Selain itu, Terminal Nilam juga telah melayani berbagai komoditas curah cair lainnya seperti high speed diesel (HSD), marine fuel oil (MFO), crude palm oil (CPO), liquefied petroleum gas (LPG), hingga hydrogen chloride (HCL).
“Dari semua layanan di Terminal Nilam, ke depan akan kami perbaiki sistem dan pola operasinya untuk menggenjot produktivitas. Tentunya semua tetap memperhatikan aspek keselamatan operasi,” ungkap Junaedhy.
“Terminal Nilam merupakan salah satu simpul penting di Pelabuhan Tanjung Perak dalam memperkuat rantai pasok domestik maupun internasional, yang pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan Nasional,” pungkasnya. (ara/opi)
Editor : Nofilawati Anisa