Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Anggota DPRD Jatim Ungkap Alasan Bandara Dhoho Kediri Kurang Diminati hingga Akhirnya Memilih Hentikan Operasional Penerbangan sampai 31 Juli 2025

Mus Purmadani • Selasa, 24 Juni 2025 | 14:42 WIB
SIAP: Suasana di Bandara Dhoho Kediri. Tahun depan Bandara Dhoho akan mulai melakukan perjalanan umrah secara langsung ke Tanah Suci.
SIAP: Suasana di Bandara Dhoho Kediri. Tahun depan Bandara Dhoho akan mulai melakukan perjalanan umrah secara langsung ke Tanah Suci.

RADAR SURABAYA BISNIS – Bandara Dhoho Kediri menghentikan operasional penerbangan hingga 31 Juli 2025.

Penutupan operasional penerbangan tersebut akibat sejumlah pesawat milik Citilink sedang dalam proses maintenance.

Citilink adalah satu-satunya maskapai penerbangan yang masih membuka rute penerbangan di Bandara Dhoho Kediri.

Sehingga ketika pesawat Citilink dalam proses maintenance maka tak ada lagi penerbangan yang operasional di bandara yang diresmikan tahun 2024 itu.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Timur, Khusnul Arif, berharap pada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk turun tangan membantu menyelematkan operasional Bandara Dhoho di Kediri.

Menurut Khusnul, penghentian operasional bandara sampai 31 Juli 2025 ini menandakan lemahnya perencanaan strategis.

“Juga sebagai bentuk lambatnya dukungan dari pemerintah daerah maupun pusat dalam menjaga keberlanjutan Bandara Dhoho,” tegas Khusnul, Senin (23/6).

Khusnul menegaskan, jika Proyek Strategis Nasional (PSN) ini gagal, maka akan berdampak negatif terhadap kepercayaan publik terhadap proyek-proyek strategis lainnya di Indonesia.

“Saya baca infonya dari beberapa media, statemen dari Angkasa Pura I yang saya baca dari beberapa media, perihal alasan penghentian sementara dari penerbangan Bandara Dhoho adalah karena keterbatasan armada atau maintenance armada. Menurut saya ini alasan klasik ya, saya menduga bukan karena itu, tetapi karena okupansi penumpang yang memang masih rendah,” jelasnya.

Ia menyebut sejumlah faktor yang menyebabkan rendahnya minat penumpang, seperti terbatasnya jadwal penerbangan yang hanya tersedia dua kali seminggu, yaitu Rabu dan Jumat, serta hanya dilayani oleh satu maskapai, Citilink.

Selain itu, harga tiket dinilai lebih mahal dibandingkan penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo.

“Hal ini menjadi salah satu penyebab calon penumpang yang berada di seputaran Kediri raya lebih memilih alternatif lain yang lebih fleksibel dan ekonomis meski harus menempuh jarak lebih jauh termasuk ketika harus ke Bandara Juanda,” ujarnya.

Khusnul juga mengingatkan, potensi makin lesunya Bandara Dhoho setelah selesainya proyek Tol Kertosono–Tulungagung.

Akses tol ke Juanda yang makin mudah, menurutnya, akan memperkuat preferensi masyarakat menuju bandara di Sidoarjo tersebut.

Untuk itu, ia mendorong adanya evaluasi menyeluruh yang melibatkan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan di 13 daerah penyangga Bandara Dhoho.

Menurutnya, 13 daerah tersebut tidak boleh lepas tangan. Mereka juga harus ikut mengembangkan potensi wisata dan industri di wilayah masing-masing agar bisa menciptakan daya tarik yang mendukung hidupnya bandara.

“Karena ketika bicara pariwisata, orang akan berlama-lama berada di Kediri dan 13 daerah penyangga, dan ketika ada industri, akan semakin banyak aktivitas dari khususnya luar Jawa Timur ini untuk masuk dan berlama-lama di Kediri karena ada kegiatan ekonomi, kegiatan industri yang terjadi di 13 daerah penyangga,” ujarnya.

Ia menekankan, perlunya membangun ekosistem ekonomi dan pariwisata yang mendukung Bandara Dhoho agar manfaat ganda (multiplier effect) dari keberadaan bandara bisa dirasakan oleh semua daerah penyangga.

“Sudah semestinya semua pihak proaktif menciptakan ekosistem pariwisata dan industri yang dapat menarik arus kedatangan masyarakat luar dan barang melalui Bandara Dhoho,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan nasib bandara dengan kredibilitas pemerintah.

“Nasib Bandara Dhoho ini linier dengan harga diri pemerintah di mata publik, sebab PSN ini marwah pemerintah, pemerintah pusat ada di sini, jika ini gagal bagaimana dengan PSN yang lain? Nanti publik akan bertanya-tanya,” ujarnya.

Khusnul bahkan, menduga hingga kini belum ada grand desain operasional yang benar-benar rampung.

Ia menyebut keberlangsungan Bandara Dhoho bisa terancam bila tidak ada langkah konkret dan intervensi serius dari pemerintah pusat dan provinsi.

“Tanpa adanya langkah konkret yang terintegrasi dan komprehensif serta intervensi serius dari seluruh pemangku kepentingan terutama pemerintah pusat dan provinsi, maka keberlangsungan Bandara Dhoho yang sudah memakan investasi triliunan rupiah ini bisa terancam tidak memberikan dampak ekonomi yang diharapkan, dan bisa jadi nanti hanya akan menjadi monumen megah yang sepi, tidak ada aktivitas,” pungkas Khusnul. (mus/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#tarif #Bandara Dhoko Kediri #citilink #penerbangan #Khusnul Arif #Komisi D #pemerintah pusat #dprd jatim #Proyek Strategis Nasional #anggota #penumpang #maskapai #mahal #pemerintah daerah