Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Di Tengah Isu Geopolitik, Eksportir Jatim Optimis Kinerja 2024 Tumbuh Positif

Mus Purmadani • Kamis, 30 Mei 2024 | 14:05 WIB
Kinerja ekspor Jatim di tiga bulan pertama tahun ini pertumbuhannya masih baik.
Kinerja ekspor Jatim di tiga bulan pertama tahun ini pertumbuhannya masih baik.

SURABAYA (Radar Surabaya Bisnis) – Kondisi ekonomi global saat ini sedang tidak baik-baik saja.

Turunnya permintaan global akibat lesunya perekonomian beberapa negara juga turut berdampak terhadap perekonomian dalam negeri.

Meskipun dihadapkan dengan isu geopolitik seperti perang antar negara, termasuk krisis Laut Merah, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur masih cukup optimistis kinerja ekspor Jatim tahun ini masih akan tumbuh positif.

Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan mengatakan, sektor usaha berorientasi ekspor saat ini masih menghadapi banyak tantangan baik internal maupun eksternal.

Seperti isu geopolitik yakni perang Rusia - Ukraina, Israel - Palestina hingga Krisis Laut Merah yang membuat biaya transhipment barang ekspor menjadi lebih mahal.

"Krisis Laut Merah berdampak pada terganggunya pelayaran yang terpaksa harus berputar ke laut Afrika sehingga cost menjadi mahal. Namun demikian kita berupaya untuk meningkatkan ekspor kita, terutama dari pelaku usaha kecil menengah untuk mencari pasar non tradisional," jelasnya, Rabu (29/5).

Meskipun kinerja ekspor pada 2023 tampak minus, tetapi Isdarmawan memilih tetap optimistis untuk tahun ini bisa tumbuh lebih baik.

Apalagi kinerja ekspor Jatim pada tiga bulan pertama tahun ini juga tampak lebih baik pertumbuhannya.

Berdasarkan data Badan Pusat Startistik (BPS) Jatim, kinerja ekspor non migas Jatim selama kuartal I/2024 (Januari - Maret) mencapai USD 6,07 miliar.

Pangsa pasar ekspor non migas Jatim selama kuarta I itu disumbang oleh Amerika Serikat (AS) sebesar USD 0,79 miliar, Jepang USD 0,77 miliar, Tiongkok USD 0,69 miliar, dan Swiss USD 0,56 miliar.

Sedangkan di pasar Asean menyumbang USD 1,12 miliar (18,43 persen) dan Uni Eropa USD 0,38 miliar (6,32 persen).

Selama tiga bulan pertama itu, terjadi tren kenaikan ekspor. Tercatat pada Januari ekspor Jatim baik migas dan non migas sebesar USD 1,99 miliar, lalu Februari USD 1,81 miliar dan pada Maret USD 2,51 miliar atau naik 39,10 persen (mtm) atau naik 34,57 persen (yoy).

Komoditas utama penyumbang ekspor non migas Jatim pada Maret yakni perhiasan/permata berkontribusi 34,79 persen atau naik 227,09 persen dengan negara tujuan utama Swiss 41,63 persen dan Jepang 18,07 persen.

Disusul tembaga menyumbang 7,54 persen atau tumbuh 6,61 persen dengan negara tujuan utama Malaysia 45,87 persen dan Tiongkok 19,28 persen.

Serta lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang 5,89 persen dan tumbuh 16,05 persen dengan negara tujuan utama Tiongkok 47,59 persen dan Malaysia 11,04 persen.

Isdarmawan menambahkan, GPEI akan terus berupaya meningkatkan kinerja ekspor, Salah satunya dengan melanjutkan program pembinaan dengan target 100 UMKM tembus ekspor.

Setiap tahun rerata ada sekitar 10 - 15 persen UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor misalnya untuk produk makanan olahan dan handycraft.

“Pasar ekspor masih menjanjikan karena negara-negara Asia yang ongkos kirimnya tidak terlalu mahal, lalu di sana juga banyak diaspora dan tenaga kerja kita di luar negeri yang terbiasa pakai produk-produk Indonesia,” imbuhnya.

Transaction Service Department Head, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Tjahjono Soebroto mengatakan, masih besarnya peluang pasar ekspor ini akan dioptimalkan oleh BSI untuk memberikan dukungan berupaya layanan perbankan maupun permodalan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor.

“Sektor usaha ekspor ini cukup berkontribusi terhadap kinerja penyaluran modal kerja BSI dengan pertumbuhan yang pesat 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi ini akan kaami kembangkan terus dengan target pertumbuhan 25 persen dari tahun lalu,” ujarnya.

Ketua Indonesian National Shipowner Association (INSA) Surabaya, Stenven Lesawengen mengatakan, Krisis Laut Merah bagi pelayaran itu sebenarnya bisnis yang memanfaatkan peluang.

Ketika ada krisis ini, transhipment time ke Eropa yang biasanya 1 minggu bisa bertambah menjadi dua minggu.

“Kalau kapal kapasitas 10.000 TEUs saja konsumsi bahan bakarnya 30 - 40 ton per hari, kalau ditambah dua minggu berarti ada penambahan cost 40 ton x 14 hari. Disitulah mereka memanfaatkan freight cost,” katanya. (mus/nur) 

Editor : Nurista Purnamasari
#perdagangan #jatim #eksportir #insa #GPEI