Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Ini yang Bikin Freight Rate Terus Melonjak

Nurista Purnamasari • Selasa, 26 Maret 2024 | 20:47 WIB
Meskipun freight rate naik, namun permintaan ekspor/impor menggunakan kapal tidak akan menurun.
Meskipun freight rate naik, namun permintaan ekspor/impor menggunakan kapal tidak akan menurun.

JAKARTA (Radar Surabaya Bisnis) – Tarif angkutan pelayaran atau freight rate dari Asia ke Eropa atau sebaliknya memang terus mengalami lonjakan. Bahkan Indonesian National Shipowners' Association (INSA) memperkirakan kenaikan freight rate tersebut dapat mencapai kisaran 56-63 persen.

Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto menuturkan, konflik geopolitik di Laut Merah yang tak kunjung reda hingga kini menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kelangsungan bisnis dan kinerja perusahaan-perusahaan pelayaran Indonesia pada 2024.

Krisis di Laut Merah membuat rute pelayaran angkutan dari Asia ke Eropa atau sebaliknya menjadi lebih jauh karena harus memutar melewati Afrika Selatan.

“Waktu pelayaran kapal menjadi lebih lama 10 sampai 14 hari dari biasanya,” ujar dia, Minggu (24/3).

Konsekuensinya, konsumsi bahan bakar kapal dipastikan melonjak. Premi asuransi yang harus ditanggung perusahaan pelayaran juga naik karena meningkatnya risiko keamanan pelayaran global seiring krisis Laut Merah serta konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina.

Jika konflik ini tak kunjung mereda, para pelaku usaha pelayaran global masih akan melanjutkan kebijakan kenaikan freight rate dalam beberapa waktu mendatang.

Carmelita menambahkan, di tengah tren kenaikan freight rate, permintaan ekspor atau impor menggunakan kapal tidak akan mengalami penurunan.

Karena sejauh ini kapal merupakan alat transportasi untuk angkutan barang-barang ekspor dan impor yang paling efisien.

“Kalaupun memang terjadi penurunan muatan ekspor-impor di kapal itu lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang melambat,” ungkap Carmelita.

Secara umum, INSA memproyeksikan pertumbuhan kinerja industri pelayaran atau transportasi laut berkisar 5 persen pada 2024, atau sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain kenaikan freight rate dan biaya operasional kapal rute internasional, pengusaha pelayaran nasional juga dihadapkan oleh tantangan efek kenaikan harga solar dan penyesuaian tarif bongkar muat peti kemas di pelabuhan.

INSA menyebut para pelaku usaha pelayaran nasional harus benar-benar bisa menghitung dengan cermat mana saja pos biaya yang dapat ditekan.

"Para pebisnis pelayaran juga mesti menggenjot kinerja usahanya dengan mengembangkan layanan angkutan di pasar domestik yang notabene kondisinya masih lebih baik ketimbang pasar global," pungkasnya. (knt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Laut Merah #angkutan pelayaran #freight rate #geopolitik #insa