SURABAYA -Kota Surabaya sedang berbenah menuju kota yang ramah lingkungan dan transportasi massal yang memadai.
Salah satunya, Pemkot Surabaya serius mentransformasi energi konvensional menjadi listrik. Yakni akan menambah transportasi umum listrik.
Untuk mendukung kebijakan itu perlu kajian yang matang. Salah satunya menyiapkan sarana prasarana (sarpras) yang terintegrasi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru memperhatikan salah satu poin penting.
Yaitu keberadaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) khusus bus listrik yang minim. Saat ini tersedia di Terminal Intermoda Joyoboyo (TIJ) dan Terminal Bratang.
"Perubahan kendaraan konvensional ke listrik harus dioptimalkan dari hulu ke hilir. Terutama untuk sarprasnya harus maksimal untuk menunjang kendaraan berbasis listrik ini nantinya," ujarnya, Selasa (2/1).
Tundjung terus melakukan kajian. Dia menggandeng perguruan tinggi. Tujuannya agar transformasi energi yang menjadi harapan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berjalan mulus. "Mulai awal tahun ini dibahas," ucapnya.
Kasi Angkutan Jalan dan Penumpang Dishub Kota Surabaya Ali Mustofa menuturkan, pihaknya ada kajian soal mobil charging keliling.
Itu merupakan jawaban keterbatasan SPKLU yang terjadi. Rencananya, unit mobile itu membantu kendaraan listrik yang kehabisan baterai di jalan.
"Saat ini pengisian baterai secara mobile itu belum digunakan. Namun, ke depannya bisa saja diperlukan,” jelasnya.
Selain itu, dalam kajian itu ada terobosan strategis. Yaitu memodifikasi puluhan halte menjadi tempat pengisian baterai otomatis. Rencana itu bakal menerapkan energi panel surya. "Kita sudah ada blue print rancangan sistemnya," ungkapnya.
Dia menjelaskan, sistemnya dengan membuat konsep pengisian baterai secara wireless. Sehingga saat menurunkan atau menaikkan penumpang bus otomatis mengisi baterai. Tapi, konsep itu masih digodok. "Ya perlahan. Tidak bisa seketika semua angkutan publik diganti listrik," terangnya.
Pakar transportasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Machsus mengatakan, transisi kendaraan listrik harus dimulai dari angkutan umum. Setelah itu baru kendaraan dinas ASN. Namun, infrastruktur pendukung harus dimulai sekarang.
"Stasiun pengisian kendaraan listrik umum ini penting. Ibaratnya seperti SPBU," jelasnya.
Menurut dia, cepat tidaknya realisasi transisi kendaraan listrik bergantung dari anggaran.
Sebab, kesiapan sarpras yang dibutuhkan tidak sedikit. Namun, pihak ITS secara teknologi sudah siap membantu.
"Prototipe untuk SPKLU juga sudah dibuat. Transisi ini tepat karena penyumbang polusi tertinggi itu kendaraan darat," imbuhnya. (hil/nur)
Editor : Nurista Purnamasari