SURABAYA - PT KAI terus memperbaiki layanan bagi penumpang dengan menambah rangkaian kelas luxury. Rangkaian tersebut merupakan kelas di atas kelas eksekutif.
Rencananya 612 KA yang telah dipesan di PT INKA, 11 gerbong merupakan rangkaian kelas luxury.
Oleh karena itu, secara bertahap PT KAI menghadirkan ruang tunggu yang nyaman untuk penumpang kelas luxury.
Sabtu (30/12), ruang tunggu luxury lounge di-launching di Stasiun Surabaya Gubeng. Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo hadir langsung dalam peresmian luxury lounge.
Luxury lounge dibuka satu jam sebelum keberangkatan KA. Didalamnya, pelanggan dapat menikmati berbagai fasilitas mulai dari ruang tunggu yang nyaman dan berpendingin udara, makanan dan minuman ringan secara cuma-cuma, musala dan toilet.
Layanan TV berlangganan, hingga melayani kebutuhan informasi terkait layanan dan program KAI.
Ruang tunggu tersebut sudah dimanfaatkan sejak 21 Desember atau awal posko Natal dan Tahun Baru (Nataru).
"Kehadiran ruang luxury ini semakin melengkapi fasilitas pelayanan kepada pelanggan KA sehingga menciptakan sebuah pengalaman baru saat bepergian dengan kereta api," kata Didiek.
Sampai saat ini, KAI memiliki layanan serupa yang telah tersedia di sembilan stasiun.
Yaitu di Stasiun Gambir, Cirebon, Semarang Tawang Bank Jateng, Purwokerto, Yogyakarta, Solo Balapan, Surabaya Pasarturi, Surabaya Gubeng, dan Stasiun Malang.
Sementara itu, KAI Daop 8 Surabaya memiliki tiga fasilitas luxury lounge yang berada di Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Surabaya Pasar Turi, dan Stasiun Malang.
Luxury lounge ini dapat dinikmati secara gratis bagi pelanggan KA jarak jauh dengan kelas luxury, priority, compartment, dan panoramic.
Lebih lanjut ia menjelaskan, layanan kelas luxury untuk memberikan segmentasi khusus, tentu harga kelas tersebut juga meningkat.
Jika animo banyak pihaknya akan menambah kelas tersebut beserta dengan ruang tunggu.
"Saat ini ada KA Argo Dwipangga dan Argo Lawu dengan tiga kelas luxury dan okupansi 100 persen selama Nataru membuktikan respons yang positif di masyarakat," jelasnya.
Meski demikian, ia mengaku akan memperhatikan penumpang kelas ekonomi karena 95 persen penumpang KA menggunakan kelas ekonomi. Sedangkan pengguna kelas luxury di bawah 30 persen.
"Dari 2.000 kereta, 95 persen penumpang menggunakan KA kelas ekonomi, baik yang KA jarak jauh maupun lokal seperti commuter," ungkapnya.
Oleh karena itu, untuk KA kelas ekonomi ada dilakukan perbaikan seat yang semula 76 seat menjadi 32 seat, dan yang 106 seat diperbaiki menjadi 80 seat.
"Harapan saya masyarakat Indonesia bisa menggunakan KA dengan berbagai segmen," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari