Properti Jatim Lesu, Separuh Pembeli Rumah Berpotensi Ditolak KPR, Ini Sebabnya

Mus Purmadani • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 15:48 WIB
Ketatnya persetujuan KPR menjadi salah satu tantangan bagi pengembang properti.
Ketatnya persetujuan KPR menjadi salah satu tantangan bagi pengembang properti.

radarsurabayabisnis.id - Penjualan properti di Jawa Timur sepanjang 2026 merosot sekitar 30–40 persen. Pelemahan daya beli masyarakat dan semakin ketatnya persetujuan kredit pemilikan rumah (KPR) membuat pengembang menghadapi tekanan, baik di segmen rumah subsidi maupun komersial.

Ketua DPD Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Jawa Timur Mochamad Ilyas mengatakan, peluang calon pembeli untuk mendapatkan pembiayaan perumahan kini semakin terbatas.

Jika sebelumnya hanya satu hingga dua dari setiap 10 calon pembeli yang ditolak bank, saat ini sekitar separuh calon pembeli berpotensi tidak lolos proses kredit.

Baca Juga: Rumah Subsidi Makin Sepi Peminat, Baru 161 Ribu dari Kuota 350 Ribu Stimulus Terserap

“Kondisi ini tidak hanya dialami pengusaha properti di Jawa Timur, tetapi juga terjadi secara nasional akibat kontraksi bisnis di sektor properti dan sektor lainnya,” kata Ilyas dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) DPD REI Jawa Timur 2026 di Surabaya, Kamis (8/10).

Pengajuan KPR Semakin Menantang

Ketatnya persetujuan KPR menjadi salah satu tantangan bagi pengembang properti. Di tengah daya beli yang melemah, calon pembeli juga menghadapi peluang lebih kecil untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan.

Situasi tersebut menekan penjualan rumah di berbagai segmen, termasuk rumah subsidi dan komersial.

Baca Juga: 35 Ribu Rumah di Jatim Dapat Program Bedah Rumah, Rp247 Miliar Sudah Dicairkan

Bagi pengembang, kondisi ini menjadi tantangan ganda. Selain harus menarik minat masyarakat untuk membeli rumah, mereka juga perlu menghadapi kendala pembiayaan yang membuat sebagian calon konsumen berpotensi menunda pembelian.

REI Usulkan Kenaikan Harga Rumah Subsidi

Di tengah penurunan penjualan, REI Jawa Timur menyiapkan usulan kenaikan harga rumah subsidi untuk dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI.

Usulan tersebut mempertimbangkan kenaikan biaya konstruksi yang belum diimbangi penyesuaian harga rumah subsidi selama bertahun-tahun.

REI juga mendorong optimalisasi program pembangunan tiga juta rumah untuk memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak.

Namun, upaya memperluas akses kepemilikan rumah tetap perlu mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan ketersediaan pembiayaan perumahan.

Pengembang Diminta Perkuat Inovasi

Sementara itu, Ketua Umum DPP REI Joko Suranto meminta pengembang memperkuat inovasi dan kapasitas usaha agar mampu bertahan menghadapi perlambatan pasar.

Menurutnya, pengusaha harus mengutamakan solusi dan mencari peluang baru, bukan sekadar mengeluhkan kondisi ekonomi.

Salah satu upaya yang dilakukan REI Jawa Timur ialah membentuk REI Jatim Institute sebagai wadah edukasi dan peningkatan profesionalisme anggota.

Lembaga tersebut diharapkan membantu pengembang memahami regulasi, perizinan, dan tata kelola bisnis. Selain itu, masyarakat juga akan diedukasi agar lebih cermat dalam memilih pengembang yang kredibel.

Joko menilai pengalaman menghadapi krisis ekonomi 1998, krisis keuangan global 2008, dan pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bagi industri properti.

Ia berharap Rakerda REI Jawa Timur menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat daya tahan pengembang di tengah penurunan permintaan dan semakin ketatnya akses pembiayaan perumahan.

Editor : Hany Akasah
Sumber : Radar Surabaya
jawa timur properti rumah subsidi rei jatim kpr