radarsurabayabisnis.id - Kepemilikan rumah pribadi di Jawa Timur mulai mengalami penurunan. Meski angkanya masih tipis, fenomena ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan hunian terutama di kawasan perkotaan yang dipadati aktivitas ekonomi dan urbanisasi.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, pada 2025 sebanyak 90,86 persen rumah tangga menempati rumah milik sendiri. Angka tersebut turun 0,07 persen poin dibanding tahun sebelumnya.
Baca Juga: Modus Penyelundupan BBM dan LPG di Jatim Terbongkar, Kerugian Negara Capai Rp7,5 Miliar
Artinya, dari setiap 100 rumah tangga di Jawa Timur, sekitar 9 hingga 10 keluarga masih tinggal di rumah kontrak, sewa, atau menempati hunian milik orang tua maupun kerabat.
Kepemilikan Rumah di Kota Jauh Lebih Rendah
BPS mencatat adanya kesenjangan cukup lebar antara wilayah perkotaan dan perdesaan dalam hal kepemilikan rumah.
Di kawasan perkotaan, tingkat kepemilikan rumah hanya mencapai 86,88 persen. Sebaliknya, di wilayah desa angkanya jauh lebih tinggi, yakni mencapai 95,95 persen.
Baca Juga: Stok Sapi dan Kambing Melimpah, Khofifah Pastikan Jatim Surplus Hewan Kurban
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan masyarakat desa cenderung lebih mudah memiliki rumah sendiri dibanding warga kota.
“Masyarakat desa cenderung lebih mudah memiliki rumah sendiri dibanding warga kota,” ujarnya, Jumat (1/5).
Menurut Herum, tingginya aktivitas ekonomi di kota memicu arus perpindahan penduduk dalam jumlah besar. Banyak masyarakat datang untuk bekerja, kuliah, maupun mencari peluang usaha.
Sayangnya, lonjakan kebutuhan tempat tinggal tersebut tidak sebanding dengan ketersediaan lahan maupun akses terhadap hunian layak.
“Kondisi ini berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap bangunan tempat tinggal, sementara ketersediaan lahan relatif terbatas,” jelasnya.
Harga Properti Naik, Budaya Kontrak Makin Marak
Tekanan kebutuhan hunian di kota turut memicu kenaikan harga properti yang semakin sulit dijangkau masyarakat kelas menengah.
Di sisi lain, budaya tinggal di rumah kontrak, kos, maupun sewa kini berkembang pesat sebagai solusi jangka pendek bagi warga urban.
Baca Juga: Jejak Pabrik Becak Tong Soen di Jalan Tepekong, Pernah Berjaya hingga Kuasai Jatim
Fenomena tersebut paling terasa di sembilan kota besar di Jawa Timur. Hampir seluruh kota mencatat persentase rumah tangga non-milik sendiri di atas 10 persen.
Kota Batu menjadi satu-satunya pengecualian. Kota wisata tersebut masih mampu menjaga angka rumah tangga non-milik sendiri di level 9,46 persen.
Kabupaten Masih Dominasi Rumah Milik Sendiri
Berbeda dengan kota, wilayah kabupaten di Jawa Timur justru menunjukkan ketahanan kepemilikan rumah yang lebih baik.
Dari 29 kabupaten di Jawa Timur, mayoritas mencatat persentase rumah tangga non-milik sendiri di bawah 10 persen.
Hanya dua kabupaten yang melampaui angka tersebut, yakni Kabupaten Sidoarjo sebesar 10,84 persen dan Kabupaten Jombang sebesar 10,38 persen.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan hunian di Jawa Timur kini bukan lagi sekadar soal jumlah penduduk, tetapi juga berkaitan dengan lokasi dan akses lahan di pusat pertumbuhan ekonomi.
Urbanisasi yang terus meningkat membuat kota-kota besar di Jawa Timur menjadi wilayah dengan tekanan hunian paling tinggi, sekaligus medan persaingan terbesar untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak dan terjangkau.
Editor : Hany Akasah