Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Penyaluran FLPP sejak Tahun 2010 hingga 2025 Tembus 1,87 Juta Unit

Nofilawati Anisa • Rabu, 14 Januari 2026 | 20:12 WIB

 

BERJAJAR: Deretan rumah yang dibangun lewat skema penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
BERJAJAR: Deretan rumah yang dibangun lewat skema penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

RADAR SURABAYA BISNIS - Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat akumulasi penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) telah menyasar 1.877.747 debitur masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sejak 2010 hingga 2025.

Data BP Tapera menyebutkan, total dana yang telah digelontorkan pemerintah untuk membantu MBR memiliki hunian pertama tersebut mencapai Rp 185,87 triliun.

Realisasi pada 2025 bahkan mencatatkan sejarah tertinggi dengan penyaluran 278.868 unit rumah senilai Rp 34,64 triliun.

Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menjelaskan, tren permintaan rumah subsidi terus menunjukkan kurva positif, terutama setelah masa pandemi.

Dia mencatat profil debitur pada 2025 didominasi oleh MBR dengan penghasilan di rentang Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.

"Kami melihat profil debitur ini tidak akan banyak berubah pada 2026. Keberhasilan realisasi 2025 juga didorong oleh kemudahan akses pembiayaan awal yang bergantung pada skema uang muka (down payment/DP) yang minim," ujar Heru dalam keterangan resmi, Rabu (14/1/2026).

Secara segmentasi, sektor swasta masih menjadi motor utama penyerapan KPR Sejahtera FLPP dengan porsi mencapai 73,63 persen atau setara 205.330 unit rumah di 2025.

Sedangkan mayoritas debitur memilih tenor cicilan di kisaran 10 hingga 15 tahun.

Memasuki tahun anggaran 2026, pemerintah memasang target yang lebih agresif.

Heru mengungkapkan, sesuai Nota Keuangan 2026, terdapat alokasi pencadangan investasi untuk memenuhi potensi penambahan target penyaluran hingga 350.000 unit rumah.

Saat ini, Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang tersedia telah dipatok untuk 285.000 unit rumah dengan total kebutuhan dana Rp 36,6 triliun.

"Dana tersebut terdiri dari anggaran DIPA sebesar Rp 25,1 triliun, pengembalian pokok (revolving fund) sebesar Rp 10,2 triliun, dan saldo awal tahun 2026 sebesar Rp4,6 triliun," ujarnya.

Heru optimistis target 350.000 unit dapat tercapai mengingat tingkat kesiapan stakeholder yang semakin matang.

Adapun, saat ini, BP Tapera telah menjalin kerja sama dengan 43 bank penyalur dan 8.113 pengembang yang tersebar di 13.249 lokasi. (nis/opi)

Editor : Nofilawati Anisa
#FLPP rumah murah #penyaluran #hunian #Heru Pudyo Nugroho #mbr #bp tapera