RADAR SURABAYA BISNIS -Meskipun masih dibayangi pelambatan ekonomi, namun para pelaku industri properti optimis tahun 2026 akan terjadi perbaikan pasar. Bahkan tahun 2027 diyakini akan terjadi booming properti lagi.
Charlie Lin, Direktur World Property Insight (WPI) menjelaskan, tahun 2026 diyakini kondisi pasar properti akan lebih baik dari tahun 2025.
Karena para investor yang selama ini menahan diri atau wait and see akan mulai berani berinvestasi lagi di properti.
Tahun 2024 ada momen politik sehingga pasar properti mengalami stagnasi. Dan tahun 2025 masa recovery, namun properti belum bisa bangkit secara masif.
Karena banyak investor yang masih wait and see. Mereka ingin melihat kinerja pemerintahan yang baru.
“Setelah satu tahun, kami melihat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga meningkat. Karena itu, kami optimis tahun 2026 properti akan semakin maju dan berkembang. Dan tahun 2027, properti akan booming lagi,” kata Charlie Lin, Jumat (12/12).
Dijelaskan, pihaknya sangat yakin tahun 2027 booming properti akan terjadi lagi.
Sebab itu, dia menyarankan, tahun 2026 merupakan moment paling tepat untuk membeli properti.
Sebab harganya belum naik. Kalaupun ada kenaikan juga belum signifikan.
“Karena itu, tahun 2026 merupakan waktu yang paling tepat untuk investasi properti. Dan tahun 2027 waktunya take profit. Jika beli properti tahun 2027 sudah telat. Karena harganya sudah akan naik signifikan,” tambah Charlie yang juga head consultant Next Level Properti.
Hal yang sama dikatakan, Alfred Herman, Direktur Next Level Properti (NLP).
Menurutnya, tahun 2026 pasar properti diperkirakan belum sepenuhnya membaik.
Karena ada kendala dari perbankan. Bank masih akan bersikap prudent untuk menyalurkan KPR.
Padahal, pasar properti di Surabaya dan kota besar lainnya sekitar 80 persen lebih masih menggantungkan KPR untuk transaksi berbagai macam properti.
Namun begitu, tahun 2026 akan jadi momen yang tepat untuk membeli properti.
Karena harganya belum naik sehingga masih menarik bagi konsumen.
“Untuk level middle up yang siap dana keras, memang tidak masalah. Namun untuk konsumen yang bergantung pada KPR, ini akan jadi kendala. Bagaiman kami bisa bantu customer untuk memiliki rumah dengan harga yang terjangkau. Selain secondary market, kami kerjasama dengan banyak developer untuk primary market. Properti yang paling banyak dicari yang harganya Rp 1,5 miliar atau dibawahnya,” katanya.
Terkait Next Level Property, Alfred mengaku optimis akan berkembang.
Meskipun baru dikembangkan tiga bulan, saat ini sudah memiliki tiga kantor cabang di Surabaya, Gresik dan Bali dan didukung 100 agen lebih.
“Tahun depan kami berharap sudah 1.000 lebih member yang gabung. Dan kami targetkan transaksi tahun depan sekitar Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar,” ujarnya.
Charlie Lin, menambahkan, pihaknya sangat yakin target akan tercapai.
Pasalnya, selain di Jakarta dan Surabaya, saat ini Bali juga menjadi tujuan menarik investasi properti.
Banyak investor lokal dan asing mengincar properti di sana baik rumah, vila, hotel dan tanah yang luas. Hal ini membuat demand meningkat tajam.
Selain itu, saat ini juga banyak investor Indonesia yang juga mencari property diluar negeri.
Sebab itu, pihaknya juga bekerjasama dengan banyak developer di luar negeri terutama di Malaysia, Australia, Jepang dan Dubai serta beberapa negara lainya di Asia dan Eropa.
“Semua ada di NLP baik residential, komesial maupun industrial. Mereka tidak perlu cari ke luar negeri, kami yang carikan. Kami yang survey ke sana. Kami yang pastikan project, lokasi dan harga yang bagus. Para agen tinggal jual saja. Ini sesuatu menarik,” tutup Charlie Lin. (fix)
Editor : Nofilawati Anisa