Industri & Perdagangan Infrastruktur Otomotif Perbankan & Keuangan Person of The Year Properti Transportasi & Logistik Wisata & Kuliner

Permintaan Rumah Sederhana Dongkrak Kredit BTN

Nofilawati Anisa • Kamis, 27 November 2025 | 17:36 WIB
ANGKUT: Seorang pekerja mengangkut material bangunan. Rumah tapak menengah ke bawah atau rumah sederhana menjadi penopang kredit BTN.
ANGKUT: Seorang pekerja mengangkut material bangunan. Rumah tapak menengah ke bawah atau rumah sederhana menjadi penopang kredit BTN.

RADAR SURABAYA BISNIS - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatat kredit dan pembiayaan hingga akhir Oktober 2025 sebesar Rp 385,59 triliun.

Capaian tersebut tumbuh 8,02 persen atau sekitar Rp 28,63 triliun secara tahunan (year on year/yoy).

Di periode yang sama tahun lalu, kredit dan pembiayaan BTN sekitar R p356,96 triliun.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan pertumbuhan kredit dan pembiayaan BTN tetap on track.

Sejalan dengan permintaan kredit yang terus meningkat stabil, terutama di pasar perumahan tapak menengah ke bawah (rumah sederhana) serta segmen institusi atau korporasi.

"BTN akan menjaga momentum positif ini hingga akhir tahun dengan didukung prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang baik," kata Nixon dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (26/11).

Nixon optimistis perseroan dapat mencapai target pertumbuhan kredit dan pembiayaan akhir tahun di kisaran 8-10 persen.

Optimisme kinerja kredit terutama didukung oleh fokus penyaluran ke sektor perumahan melalui program subsidi pemerintah yakni KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Sejahtera dan Kredit Program Perumahan (KPP).

"Sedangkan, kredit untuk non-perumahan didorong oleh penyaluran ke korporasi yang didominasi sektor real estate, listrik, gas, air dan perdagangan besar," jelasnya.

Dari sisi pendanaan, lanjut Nixon, BTN juga membukukan pertumbuhan positif untuk perolehan dana pihak ketiga (DPK).

Hingga akhir Oktober 2025, BTN mencatat peningkatan DPK sebesar 13,70 persen yoy dari Rp 372,10 triliun menjadi Rp 423,08 triliun.

Selain ditopang oleh pertumbuhan segmen ritel melalui layanan digital super apps Bale by BTN, Nixon mengungkapkan bahwa penghimpunan DPK BTN juga didorong oleh meningkatnya segmen institusi.

Terutama skala menengah dari sektor perumahan maupun sektor-sektor terkait lainnya.
Dengan pertumbuhan kredit dan pembiayaan serta DPK, BTN mencatatkan kenaikan aset sekitar 10,79 persen yoy menjadi Rp 503,48 triliun pada Oktober.

Capaian itu naik dari Rp 454,44 triliun pada Oktober 2024.

Adapun laba bersih tercatat sebesar Rp 2,50 triliun hingga akhir Oktober, naik 13,72 persen yoy dari posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,20 triliun.

Pencapaian positif tersebut, tegas Nixon, tidak hanya ditopang transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan bagi nasabah, melainkan juga hasil penerapan strategi dan proses bisnis yang konsisten dan menyeluruh.

Dari sisi aksi korporasi, BTN telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham untuk pemisahan (spin-off) unit usaha syariah (UUS) untuk digabungkan ke bank umum syariah yang baru yakni PT Bank Syariah Nasional (BSN).

Nixon pun mengungkapkan, bisnis syariah yang tengah dipisahkan ini diharapkan dapat segera beroperasi pada Desember 2025 dan mendukung pertumbuhan industri perbankan syariah nasional. (ara/opi)

 

Editor : Nofilawati Anisa
#kredit #radar surabaya bisnis #btn #rumah sederhana #Nixon LP Napitupulu #dana pihak ketiga #pembiayaan #rumah bersubsidi #digitalisasi #rumah tapak