RADAR SURABAYA BISNIS - Bisnis properti di Jawa Timur mengalami penurunan signifikan sebesar 25 persen sepanjang tahun ini.
Penurunan terjadi merata di seluruh segmen properti, termasuk rumah subsidi yang biasanya tetap stabil di tengah tekanan pasar.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Jawa Timur, Hasbi A. Rahman, kepada Radar Surabaya Bisnis pada Kamis (15/5).
“Semua (pengusaha properti] pada sambat (mengeluh). Daya beli masyarakat terhadap properti turun drastis. Biasanya kelas rumah subsidi masih agak membaik, tapi kali ini juga ikut turun,” ujarnya.
Menurut Hasbi, program pembangunan 3 juta rumah oleh Presiden Prabowo Subianto justru membuat pasar rumah subsidi stagnan, karena masyarakat masih menunggu kejelasan kebijakan.
“Ada aturan main yang belum jelas. Ada yang bilang rumah gratis, ada juga yang bilang rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan BPHTB dipotong,” jelasnya.
Informasi yang simpang siur mengenai kebijakan ini membuat banyak masyarakat memilih menunda pembelian rumah subsidi, berharap ada regulasi final mengenai rumah gratis atau rumah murah subsidi.
Hasbi menyatakan bahwa pihaknya tetap mendukung program pembangunan 20.000 rumah subsidi dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
“Untuk program Bu Khofifah, kami tetap jalankan menggunakan aturan Kementerian PUPR yang lama. Tapi untuk program 3 juta rumah, kami masih menunggu regulasinya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa REI Jawa Timur siap mendukung program nasional tersebut, asalkan pemerintah segera merilis aturan teknis yang jelas, agar pasar kembali menggeliat dan pengembang dapat menyesuaikan strategi bisnis. (mus/opi)
Editor : Nofilawati Anisa