radarsurabayabisnis.id - Tren pola asuh gentle parenting kini semakin populer di kalangan orang tua muda, khususnya generasi Z. Namun, metode pengasuhan ini masih kerap disalahartikan sebagai pola asuh yang terlalu lembut tanpa aturan dan ketegasan.
Psikolog Nur Ainy Fardana menjelaskan bahwa gentle parenting sejatinya merupakan pendekatan pengasuhan yang menekankan keseimbangan antara empati dan batasan yang jelas kepada anak.
Menurutnya, tujuan utama metode ini bukan hanya membuat anak patuh sesaat, melainkan membangun kesadaran diri anak secara emosional dan moral dalam jangka panjang.
Baca Juga: Lanjutkan Tren Pelemahan, Rupiah Dibuka Turun Tipis di Tengah Pergerakan Global
“Pendekatan ini berfokus pada lima prinsip utama, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dengan batasan yang jelas,” ungkap Nur Ainy, Senin (4/5).
Ia menjelaskan, gentle parenting tidak mengandalkan hukuman keras maupun bentakan, tetapi membangun hubungan yang hangat antara orang tua dan anak.
Salah satu perbedaan mendasar dengan pola asuh otoriter terletak pada cara memandang kesalahan anak. Dalam gentle parenting, anak dianggap sedang belajar mengelola emosi dan perilaku, sehingga membutuhkan arahan, bukan sekadar hukuman.
“Sebaliknya, dalam disiplin keras, anak dituntut patuh terhadap aturan orang tua. Perilaku yang dianggap salah dipandang sebagai ketidaktaatan yang harus dikoreksi secara tegas, sering kali melalui bentakan, ancaman, maupun hukuman fisik. Emosi anak pun kerap dianggap sebagai gangguan yang harus segera dihentikan,” jelasnya.
Baca Juga: Intip Tren Tiktok Viral yang Masih Bertahan, Ada Matcha Hingga Tanghulu
Psikolog dari Universitas Airlangga itu menegaskan bahwa dalam pola asuh ini, emosi anak tetap diakui dan divalidasi. Meski demikian, perilaku anak tetap harus diarahkan agar sesuai dengan batasan yang benar.
Nur Ainy juga mengingatkan bahwa gentle parenting bukan metode pengasuhan yang mudah diterapkan. Orang tua harus memiliki kontrol emosi yang baik serta konsistensi tinggi agar tidak berubah menjadi pola asuh permisif atau serba membolehkan.
“Pendekatan ini menuntut kesadaran diri, konsistensi, serta energi emosional yang besar dari orang tua,” tegasnya.
Jika diterapkan dengan tepat, pola pengasuhan ini diyakini mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan karakter anak. Pendekatan yang sejalan dengan pola authoritative parenting tersebut dinilai dapat membentuk kemandirian, rasa percaya diri, hingga kemampuan regulasi emosi yang baik.
“Pengasuhan ini menekankan aspek afeksi untuk membangun komunikasi dan empati dengan anak. Keduanya harus berjalan beriringan agar memberikan dampak jangka panjang, seperti kemampuan anak dalam mengendalikan diri dan terbentuknya internalisasi nilai,” pungkasnya.
Editor : Hany Akasah